Syawal 1435 Journal: "Jengki"
Assalamu'alaikum! *edisi alim*
Ga kerasa Ramadhan telah usai... Hiks! Nevermind, Syawal is coming :)
Syawal means..... Saatnya Syawal Journal!! *tetereeeeeet*
Di postingan pertama jurnal Syawal ini, sama seperti tahun lalu saya akan berbagi kisah-kisah inspiratif selama bulan Ramadhan kemarin. Semoga bisa diambil hikmah dan manfaatnya yaaa.
Bismillah, kita mulai dari cerita "Jengki", apaan sih itu? Haha itu loh temennya pete/petai. Iya, jengkol. What's wrong with jengkol? Seminggu terakhir Ramadhan dan awal Syawal ini, mama disibukkan sama sayuran berbau menyengat itu. Mama mau masak jengkol. Udah beli si jengki di tukang sayur dengan harga mahal: 35 ribu rupiah. Dengan sabar dan telaten mama mengurus si jengki. Ternyata ga mudah loh mengolah jengkol hingga menjadi semur jengkol yang (katanya sih) enak. Seumur-umur saya sendiri belum pernah makan pete, apalagi jengkol, dilarang sama mama karena efek lanjutnya (red: BAU). Kalau kali ini mama berhasil memasak semur jengkol dengan enak, saya diizinkan makan jengkol for the first time in forever! Hihihi.
Perjuangan mama mengolah si jengki dimulai dari merendamnya selama seminggu penuh di baskom, kemudian setiap hari air rendamannya diganti. Efek sampingnya adalah setiap kali ritual itu dilakukan, rumah jadi bau jengkol sampai ke ruang tamu depan (dapur rumah saya letaknya di ujung belakang). Hingga tibalah saatnya... Hari itu datang juga... Hari di mana mama akan memasak semur jengkol menggunakan si jengki. Baunya enak~ Layaknya bau semur daging. Sayangnya ketika memasak, mama sedang puasa qadha, jadi ga bisa langsung icip hasil masakannya. Kami menunggu sampai waktu makan malam. Saya dan ade excited ingin memakan jengkol untuk pertama kalinya. Uhuy!
Namun, Allah berkehendak lain. Malam itu tidak satupun dari saya atau ade yang memakan jengkol. Mama gagal! Semur jengkolnya keras, ga legit kayak biasa (katanya), ga enak deh. Akhirnya mama saja yang makan si jengki, itu juga cuma sedikit. Sedih... Perjuangan mama mengolah si jengki selama seminggu rasanya sia-sia. Saya juga sedih karena masih penasaran dengan rasa sayuran fenomenal itu. Padahal mama udah wanti-wanti: abis makan jengkol langsung makan timun, terus kalau pipis harus di kloset dan disiram yang banyak. Sepanci semur jengkol pun diam di atas meja makan, tak ada yang menyentuh.
Well, pelajaran yang dapat diambil dari cerita jengki adalah bahwa perjuangan seberat apapun yang kita lakukan hasilnya belum tentu sesuai dengan keinginan kita, tapi hasil tersebut selalu yang terbaik menurut Allah. Entah kita harus berjuang lebih keras lagi, atau hasilnya memang tidak baik untuk kita (dalam kasus ini, bisa membuat seisi rumah pingsan misalnya karena efek lanjut dari memakan jengkol), bisa juga Allah gantikan dengan hasil yang lebih baik. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. You have to believe Him!
Sekian. Nantikan Syawal 1435 Journal edisi berikutnya :)
Pictures source: Google
Pictures source: Google







0 komentar:
Posting Komentar