Di
sela-sela kehidupan asrama, gue yang selama ini tidak diperbolehkan memelihara
hewan apapun oleh kedua orang tua gue, memutuskan untuk merawat laba-laba yang
muncul di suatu kamar di gedung J lantai 1.
Gue
lupa cerita detailnya, yang jelas selama beberapa lama sewaktu kelas 2 gue
memelihara si Lobi-lobi, laba-laba imut nan cantik ini :)
Rumahnya
berupa toples besar yang tutupnya diganti dengan plastik sampul buku yang
dilubang-lubangi. Dia sangat lahap memakan mangsanya. Gue selalu kasih dia
makan laba-laba kaki panjang (nama lainnya egrang) yang berkeliaran di
sudut-sudut kamar, daripada mengganggu cewe-cewe Axivic kece, mending gue tangkep
buat hidangan makannya si Lobi.
Ini
dia si Lobi vs egrang, pastinya dalam beberapa detik si egrang akan menghilang
dari dalam toples. Seru banget liat Lobi-lobi makan. Lahap. Nyam! Nyam!
Kadang
kalau mangsanya terlalu besar, dia suka mengulum-ngulum dulu sampai bisa
disantap. Pinter banget emang laba-laba gue. Lobi suka bandel, makanannya ga
diabisin, jadi bikin kotor sarangnya kaaaan. Sesekali kalau udah kotor gue
bersihin deh toplesnya, si Lobi diungsikan dulu.
Ini
nih foto Lobi yang jelas...
Cantik
kan? Kayak yang punya #eh. Kenapa gue bisa bilang dia cantik? Karena dia
betina. Dari mana gue tau dia betina? Coba liat ini:
Apa
itu? Itu anak-anaknya Lobi. Buanyaaaaaaaaaaaak banget. Kecil-kecil kayak semut.
Jadi ceritanya, pada suatu hari gue reguler dan pulang ke rumah, pas balik ke
asrama ternyata Lobi-lobi menghilang! Dia melarikan diri dari toples. Aku pun
sangat sedih #apaseh. Gue cari-cari ke seluruh penjuru kamar tapi dia tetap
tidak ada. Pasrah, gue pun merelakan kepergian Lobi.
Namun,
ternyata takdir berkata lain, Lobi-lobi mendadak muncul di sebelah meja belajar
gue 3 hari kemudian. Seneeeeeeng deh waktu tau Lobi balik. Ternyata dia
merindukan aku #makinngaco. Kembalilah hari-hari bahagia gue bersama Lobi.
Tidak
lama setelah Lobi kembali, gue dibuat heran oleh peliharaan centil gue satu
ini. Tiba-tiba muncul sesuatu seperti permen mentos (bulat putih agak gepeng)
di bawah badannya. Semakin lama permen mentos Lobi itu semakin membesar
melebihi badannya. Sejujurnya gue khawatir, jangan-jangan Lobi terkena penyakit
atau apa.
Di
suatu sore yang panas di Serpong, selagi gue mendinginkan diri di poli klinik,
dari jauh tiba-tiba Nisa alias Osong, teman sekamar gue kelas 2,
berteriak-teriak memanggil nama gue.
"Zizooooong!
Zizoooong!", katanya, mungkin dia ngefans sama gue sampai histeris
manggil-manggil gitu, pikir gue.
"Zooooong!
Cepet ke kamar! Laba-labamu melahirkan anak banyaaaaak banget!", lanjut
Nisa. Oh. Laba-laba melahirkan? Bukannya bertelur ya?
APA?!
Gue terperangah (cie-ileh). Lobi punyak anak??? Jadi permen mentos yang
dibawa-bawa diperutnya itu ternyata telurnya? Gue pun lari ke kamar dan
mendapati meja belajar gue penuh dengan bayi-bayi Lobi. Oh my... So cute...
Mungkin sebagian besar orang akan ngeri, takut, atau jijik melihat begitu
banyaknya laba-laba kecil di depan mata. Tapi bagi gue, anak-anak Lobi adalah
suatu keberhasilan gue merawat binatang. Unlucky, kamera gue si Chiba
saat itu baterainya sekarat, padahal momen tersebut adalah saat yang membahagiakan. Bukannya difoto
malah jadi direkam, itu juga belum sedetik langsung pingsan si Chiba. Ga bisa
diajak kompromi memang kamera pertama gue itu. Yah... Yang penting momen telur
Lobi yang menetas sempat terabadikan.
Setelah
peristiwa tersebut, gue merasa kalau gue ga sanggup merawat Lobi dan
anak-anaknya yang sangat amat banyak sekali, bisa-bisa roommate gue pada
kabur. Alhasil dengan berat hati gue melepaskan Lobi dan bayi-bayi imutnya di
bawah pohon di depan gedung asrama. Hiks.
Begitulah.
Sampai saat ini dan selamanya gue tetap cinta Lobi-lobi, my first pet,
dan anak-anaknya. Walaupun gue juga suka kucing, tapi gue pikir memelihara
binatang yang jarang dihiraukan itu jauh lebih asik dan menantang. Kehidupan
gue tanpa Lobi tetap berlanjut. Tapi gue belum bisa menemukan pengganti Lobi
sampai sekarang. Lobi-lobi, you're the first and the best spider for me
:') Danke für die schöne Tage...