Syawal 1435 Journal: "Ilmu" Part 2
Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk meneruskan kisah di postingan Syawal Journal sebelumnya ini :)
Bismillah, mari kita lanjutkan!
...
Merasa dirinya terdesak, kemudian sang atheist memberikan pertanyaan kepada sang alim, "kalo memang Tuhan itu ada, kenapa kita tidak dapat melihat-Nya?"
Tanpa disangka sang alim malah menampar pipi atheist dengan keras sehingga terasa sakit.
"Mengapa tiba-tiba anda memukulku?! Sakit sekali!" respon sang atheist merasa kesakitan.
"Sakit? Apa itu sakit? Aku tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?" kata sang alim balik bertanya.
Atheist lalu menunjuk pipinya, "ini sakitnya di sebelah sini!"
"Aku tidak dapat melihatnya, tidak ada yang bisa. Namun kau tetap merasakan sakit itu bukan? Sama halnya dengan kita tidak dapat melihat Tuhan, tetapi Dia ada dan kita bisa merasakan ciptaannya", demikian sang alim mengakhiri perdebatan.
Ilmu yang kita miliki sangatlah sedikit, akan tetapi betapa pentingnya ilmu yang sedikit itu. Kita tidak perlu mengetahui dan mempelajari semua ilmu, pilihlah ilmu yang dapat berguna untuk menuntunmu sesuai pedoman-Nya. Ilmu harus selalu seimbang dengan agama. Agama seperti buku panduan hidup, sedangkan ilmu adalah bagaimana cara kita membaca dan mempraktekannya. Tidak jarang saya mendengar ada orang yang menjadi tidak percaya Tuhan karena kepintarannya, pintar keblinger, ilmu tidak seimbang dengan agama. Ada juga yang "katanya" agamis tapi malah menganggap bom bunuh diri adalah jihad, jadi teroris, agama tidak seimbang dengan ilmu. Bukan bermaksud menggurui, sebagai sesama mahkluk Tuhan kita harus saling mengingatkan dan memperbaiki diri. Saya menulis ini juga untuk evaluasi diri sendiri.
"Life is our journey from Allah to Allah"
Picture source: Google






0 komentar:
Posting Komentar