Siti Nurbaya 3
Sebenernya bukan yang ketiga juga sih, kesekian. Entah udah berapa kali topik ini muncul sejak gue SMP. Belakangan, kehadirannya menjadi-jadi. Ya gue tau, pasti karena Wa Ella sayang banget sama gue dan pengen gue dapet yang terbaik. Toh, nyatanya yang keluarga gue tau, "orang-orang" yang pernah gue bawa ga pernah ada yang cocok di mata mereka. Semakin tua, topik "bawa temen" dan "kenalin dong" semakin sering gue dengar. Haruskah semuanya gue jawab dengan "ga mau dulu" dan "mau langsung aja"? Target gue sendiri, masih sekitar 3 tahun lagi. Mama bilang, 5 tahun lagi. Tapi? Sekarang aja beliau ikut berkoalisi sama Wa Ella, dan ujung-ujungnya pasti "ya mama sih terserah teteh aja..."
![]() |
| Kokoro Button 9! (Ga nyambung emang) |
Yang paling bikin gue ga habis pikir adalah, ketika mama atau ayah tiba-tiba menyebut nama "mereka". Bilang "gimana si *piiip*? masih suka kucing ga?" dan "ayah tadi ketemu kakak kelas teteh, temennya si *piiip*". Begitu gue angkat bicara tentang "orang" yang sekarang, mama suka mengelak. Fuh! Terus anak sulungmu ini harus gimana? Topik yang terakhir ini muncul menjadi semakin serius. Tujuannya udah jelas: mencari! Bahkan gue udah tau umurnya, kerjanya, lulusannya, bahkan dikirimin fotonya! Sampai sekarang gue masih no comment. Yang gue takutkan adalah, sampai berapa lama lagi gue bisa diam?
Selamat Setengah Abad, Ayah Zi Tersayang!
Terima kasih telah dan masih menemani zi selama ini :)
Sehat dan bahagia selalu, my hero! Love you sooo
Tentang Hari Itu
Saya menangis. Lemah sekali bukan? Kali ini sepenuhnya menangis, mungkin akumulasi dari kesedihan saya selama setahun. Setahun? Ya, ternyata sudah setahun lamanya. Berkali-kali saya mencoba menghindarinya, menampiknya, tidak mau mengakuinya, tapi toh pada akhirnya saya berada pada situasi ini.
Flashback ke beberapa hari yang lalu. Saya masih sangat sibuk dengan berbagai kegiatan dan tugas yang saya pikir akan terselesaikan sebelum bulan Desember. Kenyataannya, sampai detik ini dan akhir bulan Desember nanti pun, saya masih akan sibuk. Beberapa waktu saya isi dengan menulis, mengetweet, atau sekedar menonton. Saya tidak lupa hari itu, tentu saja. Terlalu banyak hari spesial di bulan ini, dan saya tidak bisa melupakan setiap harinya. Dari jauh-jauh hari, saya telah memikirkannya. Apa yang akan saya lakukan? Apa yang telah dia lakukan dulu? Apa yang telah saya lakukan tahun lalu? Ah, tahun ini berbeda. Saya berbeda, walaupun saya tidak tahu apakah dia berbeda.
Hari itu pun datang. Terlalu banyak yang ingin saya berikan, sungguh. Terlebih lagi, terlalu banyak yang saya pikirkan. Jika saya berikan ini, apa yang akan terjadi? Jika saya berikan itu, apa yang akan terjadi? Terlalu banyak pertimbangan, hingga pesan itu masuk. Saya cemburu dan tidak ingin peduli. Yang terjadi adalah, saya memberikan ini tanpa yang lain. Kemudian saya berpikir, "ah, Pray for them, doesn’t mean they have to know your prayer."
Hingga esoknya, saya memantapkan diri untuk mengucapkan. Bagaimanapun juga, dia berhak mendapatkannya. Kejadian demi kejadian berlangsung hari itu, tanpa saya menyangka bahwa keesokan harinya lagi, saya harus memakan sendiri keberanian yang saya kumpulkan. Lemah, menangis dan menangis. Apa yang harus saya lakukan? Ketika ada yang lain datang menghampiri dan saya malah menginginkan dia. Sudahi sajakah? Dari dulu! Sangat ingin. Redam saja sendiri, pendam saja dulu, lihat saja nanti.
Teaching Journal 5# (Special Edition)
Label: Journal, Learning, Story, Teaching Journal | di 14.49
Apa ya yang spesial dari teaching journal kali ini? Hmm ternyata kami kedatangan tamu nih dari Fikom. Yap, ada beberapa orang mahasiswa Fikom Unpad yang mengunjungi kami di SD Cikeruh. Selain merekam gerak-gerik selama mengajar, mereka juga mewawancarai kami. Video yang dibuat katanya untuk liputan tugas kuliah mereka.
Check out the video!Senangnya :)
Semangat dan rajin belajar terus ya, semua siswa kelas 6 SD Cikeruh!
Langganan:
Postingan (Atom)






