♥ ALLAH SWT, A Happy Little Family, Grey, Hello Kitty, Deutschland, Frente!, EXO, Adam Sandler.

Teaching Journal 1#

Ada dua komunitas mengajar yang sedang saya ikuti: @jateducare dan @sf6_unpad. Keduanya bersifat sukarela, jadi bisa dibilang saya adalah volunteer. Selama ini, saya hanya menyukai anak-anak tertentu, keponakan saya contohnya. Namun ketika saya mencoba tawaran mengajar ini, walaupun baru sekali pertemuan, saya sudah menyukai mereka. Anak SD yang polos, penuh rasa ingin tahu, dan yang paling saya sukai, mereka idealis.

Saya mengajar Bahasa Inggris kelas 6 bersama dua teman saya @raviopatra dan @alitalitha di SD Cikeruh. Membuat materi dan sesekali ikut mengajar calistung kelas 3 untuk anak-anak SD Hegarmana dan Neglasari yang terdaftar di Sekolah FISIP 6. Banyak hal-hal menarik yang saya dapatkan ketika mengajar. Semoga saya dapat membagi pengalaman saya ini dengan baik, sehingga memotivasi pemuda lain untuk ikut berpartisipasi.

Kamu sudah hidup di negeri ini, kamu dapat belajar dengan baik, dan bagi para mahasiswa pelancong, kamu menumpang tinggal di wilayah orang lain. Walaupun tidak meminta timbal balik, tetapi apa yang dapat kamu berikan kepada mereka? Saya melakukannya dengan cara dan kapabilitas saya, saya berbagi ilmu.
Happy teaching!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Teori Cinta

Ada satu teori cinta, yang sejak beberapa waktu lalu sedang melanda saya. Biasanya teori ini terjadi pada anak kecil yang malu-malu. Teorinya begini, saya akan berlaku jahat terhadap orang yang saya cintai. Kelakuan jahat itu tentu masih dalam batas kewajaran, seperti: mengata-ngatai, menjudesi, memarahi, bahkan sampai menjauhi.

Mari kita masuk ke contoh. Seorang teman berkata begini setelah melihat twit saya untuk adik sematawayang:
"Zi, kok lo jahat sih sama adek lo? Bilang 'berisik! Berisik!' gitu. Galak banget sama adek sendiri"
Sebagai sesama anak bungsu, mungkin teman saya itu simpati terhadap adik saya. Apakah saya membenci adik saya sendiri? Tentu tidak. Saya memang sering bersikap kasar kepada adik, tapi itu tidak berarti saya membencinya--sebaliknya, saya mencintainya.

Sama halnya dengan anak kecil yang malu-malu, yang malah memukul orang yang disukainya, saya melakukan itu terhadap orang yang diam-diam saya cinta. Alasan yang sama dengan sang anak kecil: malu. Walaupun saya sebegitu sayangnya dengan adik, tetap saja saya tidak dapat mengatakan secara langsung. Saya berpikir, jika tidak bersikap kasar kepadanya, nanti dia akan tahu bahwa saya menyayanginya. Tapi toh pada akhirnya dia akan tahu dengan sikap-sikap saya yang lain, seperti: memberikan hadiah. Saya tidak bisa tidak memberi kepada orang yang saya cintai.

Konteks yang sama dengan menjauhi. Ketika saya merasa kedekatan saya dengan seseorang malah membuat kami terjerumus kepada hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan atau melewati batas pertemanan, maka saya memutuskan sebaiknya kami menjauh. Bukankah kamu tidak mau orang yang kamu cintai malah kamu sesatkan dengan keegoisanmu yang selalu ingin dekat dengannya?
Selamat mencinta!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Cerita Seorang Teman

Aku terbangun. Kamar gelap. Mimpi buruk yang membuatku menangis. Aku terdiam beberapa saat sampai pesan singkat itu masuk. Timing yang pas. Berceritalah aku dalam air mata membalas pesan. Hingga sang teman menelponku yang masih ketakutan. Tak lama, aku pun dapat kembali memejamkan mata.

Aku terbangun. Bis gelap. Mimpi buruk yang "menjadi kenyataan". Apalagi kalau bukan pelecehan namanya? Aku mengelak, tapi baru kusadari aku lemah. Teringat tadi belum membalas pesan sang teman, spontan aku mengiriminya pesan "ketakutan". Sayang, pesan itu tak dibalasnya. Aku menahan semuanya dengan membaca Asy-Syifa, obat segala penyakit. Matahari sudah mulai muncul saat sang teman menelponku. Ah, kali ini dia terlambat, aku harus menghadapi kejahatan semalaman penuh sendirian. Aku tidak tahu harus berkata apa kepadamu, teman, air mata mungkin tidak mengalir karena trauma. Sang teman yang tampak khawatir, tidak memaksaku menjawab. Sampai saat ini, dia tidak tahu. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan orang tuaku. Aku hanya ingin menceritakannya kepadamu teman, walaupun entah kapan, walaupun itu hanya menjatuhkan nilaiku, walaupun kini aku menjauh.

Aku terbangun. Bis terang. Tidak ada mimpi buruk. Betapa bersyukurnya aku kepada Tuhan. Aku menerima pesan dari sang teman. Timing yang pas. Meledak tangis yang tertahan. Oh, ini di bis, betapa anehnya diriku. Apa yang harus kubalas? Kekesalanku? Kekecewaanku? Kecemburuanku?

Aku mengejanya, T-E-M-A-N. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal Journal 7#: He is my only

Pernahkah kamu berpikir, pada saatnya nanti, bukan beliau yang harus kamu patuhi lagi, melainkan suamimu?

Shubuh itu, alhamdulillah keluarga kami masih diberi kesempatan untuk shalat berjamaah. Sambil menunggu si bungsu berwudhu, mama, ayah dan aku (berurutan) melaksanakan shalat sunah terlebih dahulu. Sampai mama selesai (saat itu aku dan ayah masih dalam shalat), ternyata adik masih asik di depan televisi, maka mama pun menegurnya,  "Dek, cepetan wudhu, tivinya matiin!". Tiba-tiba, ayah yang akan segera sujud pertama di rakaat terakhir berteriak, "lampunya matiin juga, Dek!" dan kemudian sujud--masih dalam shalat sunahnya. Sontak, aku (yang masih dalam rakaat pertama) dan mama tertawa terbahak-bahak. Ayah yang tersadar dalam sujudnya langsung beristighfar. Batal lah shalat sunah beliau saat itu.

Hikmah cerita: Khusuk lah ketika melaksanakan shalat! Jangan berbohong kamu tidak tidur, padahal setelah wudhu--dan sebelum sholat--kamu tertidur! :))
Mungkin Allah menyadarkan ayah bahwa wudhunya saat shalat sunah itu sudah batal karena sebelumnya beliau tertidur hihihi


Ayah, seperti apapun dirimu, you're my only one--setidaknya sampai nanti anakmu ini bersuami.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal Journal 6#: Hidup Bukan Pilihan


Sampai saat ini, saya masih tidak setuju dengan pernyataan "hidup adalah pilihan". To the point saja, apakah sebelum lahir kamu pernah ditanya ingin hidup atau tidak? Saya sendiri sih tidak pernah ingat diminta untuk memilih hadir di dunia. Voila! Begitu sadar, saya adalah manusia yang hidup.  Jika yang dimaksud bahwa dalam hidup kita terdapat banyak pilihan dan kita dituntut untuk memilih, bukan berarti hidup itu melulu pilihan kan? Kamu tidak dapat memilih ingin menjadi laki-laki atau perempuan, ingin menjadi muda atau tua, ingin kulit putih atau hitam, ingin rambut lurus atau keriting, ingin terlahir di keluarga kaya atau miskin--masih setuju bahwa hidup adalah pilihan? Bagi saya, hidup lebih kepada soal menerima. Menerima bukan berarti pasrah, ada doa dan usaha mendampinginya. Bagi saya, hidup lebih kepada soal bersyukur. Bersyukur atas segala apa yang telah diterima.

Menyenggol sedikit masalah hati. Apakah mencintai itu pilihan? Mau tidak mau kamu harus mencintai Tuhan. Mau tidak mau kamu harus mencintai dirimu sendiri. Mau tidak mau, pada akhirnya kamu tidak bisa--dan memang sejak awal tidak dapat--memilih orang yang kamu cintai. Tidak setuju? Masih tidak percaya bahwa hidup bukan hanya untuk memilih?

"Nak, apakah ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?"
Kotak-kotak kehidupan Andrei,  Berjuta Rasanya, Tere Liye

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal Journal 5#: Menikahi si(apa)?

Menikah memang urusan langit. Sejatinya hanya Pemilik langit yang tahu. Namun manusia tetap mempunyai standardisasi mereka sendiri untuk memilih siapa pasangan mereka kelak, walaupun segalanya tetap Dia yang menentukan. Apa sih dasar yang membuat kamu memutuskan untuk menikahi seseorang? Penampilan fisiknya kah? Hatinya kah? Hartanya kah? Jabatan orang tuanya kah? Atau almamater (jurusan dan universitas) dan pekerjaannya?

Ya, terkadang ketika kamu memilih calon pasangan hidupmu, kamu juga melihat latar belakang dan embel-embel mereka. Apalagi di lingkungan sosial di umur saya ini, yang dibicarakan bukan "siapa" tetapi "anak mana". Jawabannya juga bukan nama orang, tetapi "anak jurusan ini" dan "anak universitas itu". Sebagai contoh, teman-teman sejurusan saya ingin punya suami diplomat, sehingga kalau cita-cita mereka tidak tercapai maka mereka tetap dapat ikut suaminya keliling dunia. Pemikiran seperti itu, pemikiran (maaf) sesempit itu. Saya akui latar belakang memang penting, terutama latar belakang agama, tapi cobalah dipikirkan kembali, kalau "yang penting suami diplomat" atau "yang penting suami dokter" apalagi kalau "yang penting suami kaya", ketika mereka sudah meninggalkan titel (tittle) itu apakah kamu tetap ingin bersamanya?

Alkisah ada seorang pemuda dengan latar belakang keluarga yang sederhana. Namun dengan kegigihan orang tuanya, dia kemudian dapat hidup berkecukupan dan bahkan terbilang lebih. Suatu ketika sang pemuda jatuh cinta kepada teman sebayanya. Dia tidak tahu keluarga wanita itu, dan pemuda juga tidak tahu latar belakang wanita itu. Hati membuat sang pemuda tulus mencintai sang wanita apa adanya. Belakangan, setelah sang pemuda serius ingin menikahi sang wanita, tahulah ia bahwa wanita itu berasal dari keluarga yang kaya raya, dengan hidup yang lebih dari lebih berkecukupan, bahkan orang tuanya berperan penting dalam negara. Sang pemuda tidak kemudian ciut, dia ingin menikahi sang wanita walaupun dengan atau tanpa latar belakang keluarganya. Di sinilah mereka, di kehidupan pernikahan yang insya Allah sakinah. Sang pemuda--kakak sepupu saya--menikahi wanita impian yang dia cintai, tanpa dibicarakan buruk seperti "hanya mengincar hartanya".


Jadi, si(apa) yang akan kamu nikahi?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Obrolan Pagi

01/09/2013

Selesai shalat subuh berjamaah.
"Semalem, si kodok (nama disamarkan) ngewasap zi", kataku sambil mengambil hp. Ketika mematikan alarm hp subuh tadi, aku setengah sadar melihat notifikasi.
"Kayaknya nanti suami zi dokter deh, tapi ga tau dokternya yang mana", celetuk Mama.
Aku tertawa.
"Kalo suami zi anak teknik gimana?"
Percakapan berlanjut sedikit. Siapa yang tau sih urusan langit?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments