Syawal Journal 3#: Horror
Label: Journal, Learning, Story, Syawal Journal | di 10.41
Sore terakhir menjelang buka puasa di bulan Ramadhan tahun ini.
"Dek, mau ikut ga?" tanyaku sambil mengguncang-guncang tubuh adik yang sedang tertidur pulas.
Tidak ada respon.
"Dek, bangun! Mau ikut ga? Nanti ditinggal nih", aku mengancam.
Matanya terbuka sedikit, sedikit sekali sampai-sampai tidak terlihat membuka mata.
"Mau kemana?" kata adik dengan suara lirih, setengah sadar.
"Ke lapangan, beli makanan buat buka, teteh yang bawa mobil", jelasku.
Setelah itu tidak ada respon lagi. Adik kembali terlelap.
Ya sudah, pikirku. Aku pun melangkah meninggalkan dia sendirian di rumah, si Mbak pulang kampung beberapa hai yang lalu. Ayah dan mama sudah menunggu di mobil. Dengan modal nekad, aku untuk pertama kalinya mengendarai mobil kami keliling kompleks rumah. Saat itu cuaca sudah sangat mendung dan gelap, pelan-pelan hujan deras pun turun. Hari terakhir di bulan Ramadhan 1434, langit menangis karena kepergiaannya.
Belakangan ini, aku dan adik sering menonton video-video Youtube milik PewDiePie (silakan dicek sendiri seperti apa videonya ;p). Sebagai pecinta permainan kompi, kami agak mengkhianati games sebenarnya, tapi hitung-hitung menonton untuk belajar dulu sebelum memainkan (nah loh, makin penasaran ga tuh videonya seperti apa??). Kembali ke cerita.
Sampai di rumah dengan sedikit kuyup karena harus naik-turun mobil untuk beli makanan, ternyata adik yang tadi sedang tidur sudah menunggu di depan pintu rumah. Aku dan mama turun dari mobil, membiarkan ayah yang memarkirkannya.
"Udah bangun?" tanyaku menyindir.
"Abis dari mana, teh?" adik balik bertanya.
"Loh, emang kamu ga sadar tadi teteh bangunin?"
"Ngga, bangun-bangun Jaki panik, rumah gelap banget, mana petir, ujan gede. Udah gitu bangun juga gara-gara tetesan air di kaki. Jaki kira itu teteh, iseng ngebangunin.Ternyata air hujan dari jendela. Serem banget deh, udah kayak di game-game horor. Terus Jaki langsung sms teteh", cerita adik panjang lebar.
Aku tertawa, "makanya jangan suka tidur sore, nanti jadi gila".
Ketika aku cek hp, benar saja ada sms dari adik yang isinya: "Teteh di mana?"
Hahaha begitulah. Tidur sore di akhir bulan Ramadhan dan bukannya memperbanyak ibadah ternyata berakibat cukup fatal. Kebayang tuh, abis nonton video-video begitu terus bangun-bangun serasa lagi di dalamnya. Coba kalau dia ikut disetirin tetehnya, kan bisa sambil belajar mobil juga.
Happy fasting!
Syawal Journal #2: Orang Kedua
Label: Journal, Story, Syawal Journal | di 21.27
Selamat menjalankan ibadah puasa sunah Syawal!
Saya? Baru hari pertama niat Syawal-an malah berhalangan...hiks tapi gapapa, disyukuri saja :)
Pada tulisan kedua ini--sama seperti judul dan urutannya--saya ingin bercerita mengenai second person. Bukan wakil koordinator divisi kepanitiaan, second person di sini maksudnya Mbak saya hehe. Namanya Puji Harti. Orang Brebes tulen. Ibu kedua saya setelah Mama. Anggota keluarga ke-5 di Happy Little Family (keluarga kecil kami). Pengatur urusan ibu rumah tangga secara teknis, mulai dari belanja, masak, mencuci, dan bersih-bersih rumah. Saat ini juga menjadi ahli parkir mobil pribadi keluarga. Saya tidak pernah mau menyebutnya pembantu, dan dia sendiri juga menyebut dirinya sebagai "yang bantu-bantu di rumah". Terdengar lebih ribet dan panjang, tapi makna sebuah panggilan menurut saya cukup penting bagi harga diri seseorang.
Mbak pertama kali datang ke rumah kami ketika saya bahkan belum bisa--ehem, maaf--cebok sendiri. Sampai sekarang saya berkuliah, dia setia mendampingi dan telah menjadi bagian dari keluarga kami (memang masih termasuk keluarga jauh, karena kakak perempuan Mbak menikah dengan kakak tiri ayah). Tidak heran saya dan adik tumbuh dengan sosok "ibu kedua", yang menyuapi, memandikan, dan mengasuh kami sehari-hari. Saya tidak bisa melupakan masa-masa di mana setiap pulang sekolah menonton film serial India dan telenovela di televisi, bahkan hafal lagu-lagu dangdut yang tenar saat itu.
Lika-liku kehidupan tampaknya hampir dikhatamkan oleh Mbak. Dengan latar belakang SD kelas 2, Mbak menikah muda, mempunyai seorang anak laki-laki, dan kemudian bercerai. Belum selesai sampai di sana, kehidupan percintaan Mbak di lingkungan rumah kami cukup rumit dengan banyaknya laki-laki yang menyukai. Mulai dari pembantu tetangga depan rumah, sampai tukang ojek. Sayang, dia "tergelincir" dan harus sejenak meninggalkan rumah kami karena mengandung, walaupun kemudian menikah dengan tukang ojek langganan yang mengantar-jemput adik sekolah. Saat ini, anak kedua Mbak bernama Nur Fadillah, sudah naik ke kelas 3 SD. Waktu tanpa terasa berjalan sangat cepat. Berbagai peristiwa telah terjadi di dalam lingkungan keluarga kami.
Teman saya pernah bilang bahwa dia tidak mau menjadi orang kedua karena seringkali terlupakan (sebagai contoh: sebagian besar orang tidak ingat bahkan tidak tahu nama wakil presiden Amerika Serikat, atau malah mungkin nama wakil presiden Indonesia kedua yang mendampingi Pak Soekarno ;)). Namun sampai kapanpun, Mbak tetap menjadi second person bagi saya secara pribadi. Bedanya, second person yang biasa sering dilupakan, tidak berlaku dalam hubungan saya dengan Mbak. Sooo, menurut saya tidak selamanya orang kedua atau menjadi orang kedua selalu buruk. Setuju dengan saya?
Lika-liku kehidupan tampaknya hampir dikhatamkan oleh Mbak. Dengan latar belakang SD kelas 2, Mbak menikah muda, mempunyai seorang anak laki-laki, dan kemudian bercerai. Belum selesai sampai di sana, kehidupan percintaan Mbak di lingkungan rumah kami cukup rumit dengan banyaknya laki-laki yang menyukai. Mulai dari pembantu tetangga depan rumah, sampai tukang ojek. Sayang, dia "tergelincir" dan harus sejenak meninggalkan rumah kami karena mengandung, walaupun kemudian menikah dengan tukang ojek langganan yang mengantar-jemput adik sekolah. Saat ini, anak kedua Mbak bernama Nur Fadillah, sudah naik ke kelas 3 SD. Waktu tanpa terasa berjalan sangat cepat. Berbagai peristiwa telah terjadi di dalam lingkungan keluarga kami.
Teman saya pernah bilang bahwa dia tidak mau menjadi orang kedua karena seringkali terlupakan (sebagai contoh: sebagian besar orang tidak ingat bahkan tidak tahu nama wakil presiden Amerika Serikat, atau malah mungkin nama wakil presiden Indonesia kedua yang mendampingi Pak Soekarno ;)). Namun sampai kapanpun, Mbak tetap menjadi second person bagi saya secara pribadi. Bedanya, second person yang biasa sering dilupakan, tidak berlaku dalam hubungan saya dengan Mbak. Sooo, menurut saya tidak selamanya orang kedua atau menjadi orang kedua selalu buruk. Setuju dengan saya?
Syawal Journal #1: Mengabaikan Yang Tidak Pernah Mengabaikanmu
Label: Journal, Learning, Syawal Journal | di 21.34
Assalamu'alaikum!
Alhamduillah, senang sekaligus sedih masih diberikan kesempatan untuk melewati bulan puasa tahun ini. Senang karena dapat menjalankan ibadah puasa bersama keluarga, dan sedih karena ibadah yang saya jalankan belum maksimal. Saya ingin bercerita sedikit sebelum masuk ke penjelasan dari judul pertama Syawal Journal ini.
Dalam perjalanan hidup saya, sampai saat ini waktu yang paling banyak saya gunakan untuk beribadah amaliyah adalah ketika saya sedang menuntut ilmu di MAN Insan Cendekia selama tiga tahun. Pertama kali saya mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu bulan Ramadhan, paling banyak melaksanakan shalat sunah, puasa, hafalan, dsb. Pada rentang waktu itu pula saya memutuskan untuk terus menutup aurat, walaupun saya akui bahwa saya belum bisa menjaga hati dan diri dari pergaulan dengan lain jenis. Kesempatan dan fasilitas yang ada mendukung kegiatan keagamaan saya. Masa-masa itu, masa-masa keemasan singkat setelah melewati kegelapan.
Pernahkah anda merasa terabaikan?
Hal itu yang saya rasakan saat saya berada jauh dari-Nya. Gusar, emosional, ingin lenyap dari dunia. Masa-masa labil, masa-masa kenakalan anak remaja, masa-masa kegelapan yang saya alami. Beruntung, kedua orang tua menyekolahkan saya di Madrasah Tsanawiyah, dengan pelajaran agama yang lebih dibandingkan dengan sekolah umum. Tanpa ada tempat untuk berkeluh-kesah, saya menyadari sesuatu. Ketika saya menangis, marah, dan melukai diri, saya berbicara sendiri. Seolah-olah bercakap dengan sesuatu yang tidak tampak. Saya berdoa. Bukan doa dalam diam dan khusuk. Doa dalam raungan dan air mata. Dia hadir, bahkan selalu bersama dan tidak pernah sekalipun mengabaikan saya. Kemudian berangsur-angsur, saya diberikan-Nya petunjuk jalan menuju masa-masa keemasaan.
Saat ini, Syawal 1434, saya berusaha menebus kelalaian, abai beribadah pada Ramadhan kemarin. Walaupun tanpa fasilitas yang sama dengan ketika berada di MAN Insan Cendekia dulu, kesempatan untuk terus beribadah masih ada selama jantung berdetak. Jika ibadah amaliyah tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, maka saya berusaha menggantinya dengan ibadah lain. Lagipula secara logika, tidak etis kan, jika mengabaikan Dia yang tidak pernah sekalipun mengabaikanmu? ;)
Pernahkah anda merasa terabaikan?
Hal itu yang saya rasakan saat saya berada jauh dari-Nya. Gusar, emosional, ingin lenyap dari dunia. Masa-masa labil, masa-masa kenakalan anak remaja, masa-masa kegelapan yang saya alami. Beruntung, kedua orang tua menyekolahkan saya di Madrasah Tsanawiyah, dengan pelajaran agama yang lebih dibandingkan dengan sekolah umum. Tanpa ada tempat untuk berkeluh-kesah, saya menyadari sesuatu. Ketika saya menangis, marah, dan melukai diri, saya berbicara sendiri. Seolah-olah bercakap dengan sesuatu yang tidak tampak. Saya berdoa. Bukan doa dalam diam dan khusuk. Doa dalam raungan dan air mata. Dia hadir, bahkan selalu bersama dan tidak pernah sekalipun mengabaikan saya. Kemudian berangsur-angsur, saya diberikan-Nya petunjuk jalan menuju masa-masa keemasaan.
Saat ini, Syawal 1434, saya berusaha menebus kelalaian, abai beribadah pada Ramadhan kemarin. Walaupun tanpa fasilitas yang sama dengan ketika berada di MAN Insan Cendekia dulu, kesempatan untuk terus beribadah masih ada selama jantung berdetak. Jika ibadah amaliyah tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, maka saya berusaha menggantinya dengan ibadah lain. Lagipula secara logika, tidak etis kan, jika mengabaikan Dia yang tidak pernah sekalipun mengabaikanmu? ;)
![]() |
| najmeeqamar.blogspot.com |
Syawal Journal: Prologue
Label: Journal, Syawal Journal | di 17.35
Bismillahirrahmanirrahim... Niat menulis jurnal di bulan Syawal ini telah muncul sejak akhir Ramadhan 1434 H. Salah satu latar belakangnya adalah rasa kekurangan saya dalam memanfaatkan bulan Ramadhan tahun ini. Bisa dibilang, liburan Ramadhan kali ini merupakan waktu libur yang paling produktif bagi saya. Selain rehat sejenak dari aktivitas belajar-mengajar di kelas dan melakukan perbaikan gizi (red: makan-ngemil-makan), saya banyak melakukan hal lain yang "menghasilkan", seperti kursus stir mobil, memulai bisnis kecil-kecilan, magang informal, bahkan menjadi baby sitter.
Di samping itu, saya sadar bahwa saya berada pada lingkungan nyata, yang sebenarnya. Lingkungan di mana pribadi dituntut untuk memenuhi tanggung jawabnya tanpa (seharusnya) perlu diancam. Pada kasus saya, di umur yang hampir kepala dua ini, saya belum bisa menyeimbangkan antara tanggung jawab duniawi dan akhiratwi (?). Ketika waktu libur saya habiskan dengan melakukan kegiatan produktif duniawi, saya tidak lagi bisa memaksimalkan waktu untuk beribadah di bulan Ramadhan. Hal ini akan saya jabarkan dalam tulisan pertama di Syawal Journal.
Well, hari ini tepat seminggu setelah 1 Syawal 1434 H, dan insya Allah saya akan rutin menulis selama sebulan. Sebagai gambaran, isi tulisan berupa hasil pemikiran saya terhadap peristiwa-peristiwa di sekitar saya. Silakan ambil yang baik dan tinggalkan yang buruknya. Komentar sangat diharapkan dapat menjadi masukan untuk lebih baik kedepan.
عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «
المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم
للناس »
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang
beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang
tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling
bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
eramuslim.com
Penulis SJ 1434,
@pranandia
Langganan:
Postingan (Atom)









