Bubble Gum Theory
Hello 2016!
Let's start this year with another theory of mine ;)
This one is the Bubble Gum Theory. Teori Permen Karet.
Pernah makan permen karet? Penggemar permen pasti paham banget how chewy this candy so it can relieve our stress. Yes, for me bubble gum is really good. Bisa ditiup-tiup jadi balon terus dipecahin di luar mulut :))
Gue mau mengumpamakan bubble gum sebagai seseorang, yg manis dan menyenangkan. Saat dimakan, terus dikunyah tanpa lelah, makin dikunyah makin lengket dan enak. Semakin lentur, bubble gum bisa dibuat menjadi permainan yg nagih seperti membuat gelembung balon. As for me, orang yg makan permen karet itu looks cool, termasuk saat gue mengunyah bubble gum secara tidak sadar membuat gue lebih percaya diri. But, apa yg terjadi ketika permen karet terlalu lama berada di dalam mulut? Rasanya jadi ga manis lagi, bland, dan permainan gelembung pun jadi membosankan. Then bubble gum akan dibuang begitu saja, bahkan dengan cara yg kurang layak. Misal diletakkan di tempat-tempat umum yg mengganggu kenyamanan publik.
Same as bubble gum, ada seorang perempuan yg manis dan menyenangkan. Sangat nyaman berada di dekatnya. Membanggakan untuk di sampingnya. Namun pada suatu masa, perempuan itu menjadi hambar, karena sudah cukup "dirasakan" (sorry if it is too vulgar). Sehingga pada akhirnya, dia akan ditinggalkan, dengan cara yg menyedihkan.
Ada juga kisah cinta seperti itu. Seperti teori permen karet. Atau peribahasa habis manis sepah dibuang.
BE STRONG! KEEP AWARE!
Diselesaikan pada akhir tahun 2017.




