♥ ALLAH SWT, A Happy Little Family, Grey, Hello Kitty, Deutschland, Frente!, EXO, Adam Sandler.

Syawal 1435 Journal: "Panggilan"

Bismillah... Jurnal Syawal edisi terakhir 1435 H nih guys :)
Terima kasih kepada semua pembaca setia jurnal-jurnal saya, semoga bermanfaat ya! Nantikan jurnal edisi berikutnya ;)

Panggilan. Siapa yg tidak pernah mendapatkannya? Siapa yg tidak pernah menunggunya? Apalagi kalau panggilan dari cemceman kita *blushing*, ngga ketang, panggilan dari pihak sponsor atau HRD perusahaan yg membawa berita baik misalnya, atau bahkan "sekedar" panggilan dari orang tua yg menanyakan kabar. Saya sering tidak menjawab panggilan telfon dari nomer-nomer tanpa nama di handphone karena beberapa kali saya terjebak dengan panggilan-panggilan kurang penting, seperti dari provider kartu telfon atau penawaran kartu kredit. Jadi untuk orang luar yg berkepentingan dengan saya sebaiknya kirim pesan dulu ya. Teruuus, apa pentingnya sih membahas panggilan? Panggilan yg saya maksud bukan sekedar panggilan biasa loh, meeen--and women--tapi panggilan paling krusial dalam hidup manusia. Apa hayooo? Exactly! Panggilan-Nya. Mungkin setiap orang bisa berbeda-beda mengartikan sebuah panggilan, tapi panggilan yg dibahas di sini adalah dalam konteks rukun iman yang keenam. Masih ingat kan? Menunaikan ibadah haji bila mampu, darl, jangan pikunan kayak saya dong ;p


Aamiin!
Iya, jadi ceritanya beberapa waktu lalu saya bercakap-cakap di tengah perjalanan jauh dengan teman-teman saya. Kebetulan ada seorang teman yg insya Allah awal tahun depan akan umrah ke Mekah setelah beberapa kali tertunda (doakan saya menyusul di tahun berikutnya ya aamiin), kemudian teman saya yg lain menanggapi, katanya pergi ke kiblat umat muslim tersebut adalah suatu panggilan. Jika belum saatnya, maka berarti kamu belum dipanggil oleh-Nya. Saat dipanggil, maka berarti kamu harus memasrahkan diri akan panggilan Allah. Oleh sebab itu, cerita teman saya (sebut saja namanya Vini hihi), sebelum berangkat ke Tanah Suci baik beribadah haji maupun umrah, biasanya umat Islam mengadakan acara selamatan yg bertujuan untuk "mengantarkan" dan mendoakan sang penunai ibadah kepada Allah dalam memenuhi panggilan-Nya. Mereka bertawakal (memasrahkan diri) apapun yg akan terjadi di sana saat bertatapan langsung dengan Ka'bah. Apakah mereka akan kembali kepada Sang Pencipta, ataukah ditakdirkan masih harus menempuh di alam sementara ini (read: world).

Tanpa disadari, sebagai umat Islam kita sangat sering mendapat panggilan, lima kali sehari. Adzan. Panggilan yg mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah mampir sebentar, panggilan untuk mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan menunaikan kewajiban manusia untuk berdoa dan bersyukur dengan shalat. Intropeksi diri bagi kita semua untuk tidak menunda-nunda dalam memenuhi panggilan shalat sebelum benar-benar dipanggil untuk kembali ke sisi-Nya, masya Allah :") sangat sulit memang. Friends, in your opinion, what kind of call that you have to answer? Why?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal 1435 Journal: "Peta Hidup"

HUAAA Assalamu'alaikum!
Ga kerasa sudah di penghujung Syawal tahun ini, gimana puasa Syawal kalian? Semoga udah lengkap ya :)

Great people, sudahkah merencanakan masa depan kalian? Such as, setelah lulus SMA mau kuliah atau langsung bekerja, kalau kuliah ingin kuliah di mana dan jurusan apa, setelah lulus kuliah kalian ingin langsung bekerja atau lanjut sekolah postgraduate, kalau lanjut S2 dan atau S3 maka pilih sekolah di dalam atau di luar negeri, dan biasanya yg cukup krusial adalah menentukan kapan menikah. Ah, tentang yg satu ini sih ga ada yg tau bagaimana ya, tergantung kapan bertemu jodohnya :') tapi apa salahnya berencana?

Belakangan ini, rencana-rencana hidup masa depan--setidaknya 5 tahun ke depan--cukup menjadi pikiran saya. Tiba-tiba saya teringat, suatu ketika di kelas 2 SMA (MAN ketang), saya mendapat tugas dari guru Aqidah Akhlak sekaligus guru wali saya, Pak Away, untuk membuat sebuah peta hidup. Bukan, bukan belajar sihir biar peta bisa bernapas dan jalan-jalan, tapi peta kehidupan kita dari tahun ketahun sejak lahir. Life mapping ini cuma berupa kotak-kotak sederhana yg diisi dengan rencana-rencana hidup kita. Satu kotak berisi rencana kita di satu tahun umur, jika kita membuat peta hidup pada umur 16 maka 16 kotak sebelumnya berisi pencapaian atau pengalaman kita selama hidup. Karena ukuran kotak yg tidak begitu besar, maka kita hanya bisa menuliskan hal-hal atau pencapaian penting, kecuali kalian menulisnya dengan kata-kata saja. Saya sendiri mengisi kotak-kotak saya dengan gambar-gambar berwarna dengan sedikit keterangan gambar.

Sedikit bocoran tentang isi peta hidup saya, saat ini sudah mencapai kotak ke 20,5--iya saya pakai 0,5 karena saya lahir di setengah tahun terakhir atau awal tahun ajaran baru biasanya, biar pas aja gitu hehe. Isi kotak saya di umur ini adalah: gambar saya menghadap belakang yg cemas dengan list deadline (dateline), beserta keterangan gambar: kejar deadline. Sengaja saya tulis "kejar" dan bukannya "dikejar" agar saya termotivasi dan bukannya terpaksa. Dalam menulis peta hidup, sebenarnya semakin detail dan rinci peta hidup kita maka akan semakin baik. Misal di kotak "kuliah S2" maka disebutkan juga mau ambil jurusan apa dan di universitas mana, di kotak "menikah" dituliskan mau menikah dengan siapa #eh #skip, hal ini akan membuat kita lebih fokus pada tujuan. Masalah tercapai atau tidak itu urusan belakangan, tergantung usaha dan doa kita dalam mewujudkannya.

Seiring berlarinya waktu, mungkin ada target-target di tahun-tahun tertentu yg tidak tercapai, no worries! Kalian tinggal mengganti rencana baru sesuai dengan jalan hidup yg ditempuh. Memiliki rencana-rencana memang sangat idealis, tapi sama sekali bukan hal yg buruk karena kita punya track hidup yg lebih teratur dan semangat lebih untuk mencapai target. Saya sendiri kurang suka dengan spontanitas. Well, akibat life mapping saya kurang detail, alhasil saat ini saya sedang membuat rencana-rencana baru yg lebih realistis. Ah! Satu hal lagi yg penting adalah membuat lebih dari 1 plan, sehingga kita akan lebih open minded dan tidak mudah kecewa. Buatlah plan A, B, C, D bahkan Z menyesuaikan dengan hasil yg kita dapatkan di setiap langkah mencapai tujuan dalam hidup. Tidak ada yg salah dengan bermimpi dan berencana setinggi apapun selama itu akan memotivasi untuk melakukan kebaikan, setidaknya untuk hidup kita sendiri. So, let's dreaming and planning!

"Jadilah! Maka jadilah" QS Yasin 82

Manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang akan menentukan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Sad. Fat.

Happens every single time *sigh*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal 1435 Journal: "Ilmu" Part 2

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk meneruskan kisah di postingan Syawal Journal sebelumnya ini :)
Bismillah, mari kita lanjutkan!
...
Merasa dirinya terdesak, kemudian sang atheist memberikan pertanyaan kepada sang alim, "kalo memang Tuhan itu ada, kenapa kita tidak dapat melihat-Nya?"
Tanpa disangka sang alim malah menampar pipi atheist dengan keras sehingga terasa sakit.
"Mengapa tiba-tiba anda memukulku?! Sakit sekali!" respon sang atheist merasa kesakitan.
"Sakit? Apa itu sakit? Aku tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?" kata sang alim balik bertanya.
Atheist lalu menunjuk pipinya, "ini sakitnya di sebelah sini!"
"Aku tidak dapat melihatnya, tidak ada yang bisa. Namun kau tetap merasakan sakit itu bukan? Sama halnya dengan kita tidak dapat melihat Tuhan, tetapi Dia ada dan kita bisa merasakan ciptaannya", demikian sang alim mengakhiri perdebatan.

Indeed!
Ilmu yang kita miliki sangatlah sedikit, akan tetapi betapa pentingnya ilmu yang sedikit itu. Kita tidak perlu mengetahui dan mempelajari semua ilmu, pilihlah ilmu yang dapat berguna untuk menuntunmu sesuai pedoman-Nya. Ilmu harus selalu seimbang dengan agama. Agama seperti buku panduan hidup, sedangkan ilmu adalah bagaimana cara kita membaca dan mempraktekannya. Tidak jarang saya mendengar ada orang yang menjadi tidak percaya Tuhan karena kepintarannya, pintar keblinger, ilmu tidak seimbang dengan agama. Ada juga yang "katanya" agamis tapi malah menganggap bom bunuh diri adalah jihad, jadi teroris, agama tidak seimbang dengan ilmu. Bukan bermaksud menggurui, sebagai sesama mahkluk Tuhan kita harus saling mengingatkan dan memperbaiki diri. Saya menulis ini juga untuk evaluasi diri sendiri.

"Life is our journey from Allah to Allah"


Picture source: Google

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Perbandingan

Banyak pertanyaan yang terbersit dalam kepalaku setelah melewati tanggal 1 Mei 2014. Kenapa aku tidak merasa lega setelah berbuat "kebaikan"? Kenapa dalam penyesuaian "kembali" yang terjadi adalah pertengkaran? Ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiranku. Ada perbandingan yang hanya dilihat oleh orang lain dari luar.

Pertama, aku adalah "aku yang dulu", bandel, pelanggar aturan, tidak Islami. Sedangkan kamu adalah "kamu yang sekarang", baik, alim, pintar.
Kedua, aku adalah "yang mendekati", sedangkan kamu adalah "yang didekati."
Ketiga, aku adalah "yang mengejar", sedangkan kamu adalah "yang dikejar."
Keempat, aku adalah "yang menyesatkan", sedangkan kamu adalah "yang disesatkan."
Kelima, aku adalah "yang ditinggalkan", sedangkan kamu adalah "yang meninggalkan."
Keenam, aku adalah "yang menderita", sedangkan kamu adalah "yang baik-baik saja."

Aku berusaha bertahan. Orang lain tidak perlu tahu kamu yang sebenarnya, sisi gelapmu itu hanya milikku. Orang lain tidak perlu tahu kejadian yang sebenarnya, peristiwa itu hanya kenangan kita. Tapi untuk apa kamu berbohong? Mengatakan satu dua tahun tetapi nyatanya lima tahun. Kamu pikir aku tidak sanggup menunggu selama itu? Tapi untuk apa kamu berbohong? Mengatakan ingin menjauhi yang lain juga tetapi mereka malah kamu perlakukan istimewa. Kamu pikir aku virus penyakit yang harus dihindari? Tapi untuk apa kamu berbohong? Mengatakan aku tidak menghargaimu?! Kamu pikir untuk apa aku menitipkan pesan pada post it-post it itu??

Lagi-lagi syndrom itu muncul. Kambuh setelah sekian lama. Bangkit karena perbandingan dan kebohongan. Hanya Tuhan yang setia menemaniku dalam setiap luka. Hanya Dia tempat kembali. Hanya Allah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Pengemudi Bercerita

Beeeeepbeep! Bruuum~
Guess what sound is it? Yeah, car!

Bulan Agustus ini saya resmi setahun memiliki SIM A hohoho. Padahal sih nyetir mobilnya sebulan sekali juga ngga *grinning* ya no problem lah ya, asal ga lupa gimana cara nyetir manual. Pasalnya teman perempuan saya yang punya mobil matic jadi udah ga bisa nyetir manual lagi karena ga terbiasa. Postingan "Beepbeep!" ini akan bercerita tentang pengalaman saya menyetir mobil dengan jam terbang yang masih sangat sedikit, tapi semoga bisa jadi pelajaran terutama untuk ciwi-ciwi yang akan/sedang belajar setir mobil :)

Kenapa saya memutuskan untuk latihan setir mobil? Sementara setir motor aja belum lancar-lancar. Saya sudah bisa mengendarai motor sejak SMP, pinjem motor teman saya sana-sini, soalnya saya hampir ga pernah diperbolehkan bawa motor kalau sedang di rumah. Pernah sekali-dua kali bawa motor, itu juga harus ditemani ayah dan huft, benar-benar ga nyaman, diprotes terus sepanjang jalan. Alasan ayah tidak mengizinkan saya bawa motor karena khwatir segala macam, kecelakaan lah, motor dicuri lah. Pertama ikut kursus setir mobil pun karena tidak sengaja. Waktu itu libur awal tahun 2013, mama menyuruh saya meneruskan sisa waktu kursus setirnya karena beliau belum sempat melajutkan lagi. Mama sudah dua kali kursus tapi belum juga lancar, maklum faktor usia dan kesibukan.

Mobil impian saya: VW Beetle

Saya lanjutkan kursus setir mobil saya di liburan berikutnya, pertengahan tahun lalu bersama dengan tante saya di tempat yang sama: Panca Sari Jaya (cabang Pamulang). Ternyata ga lama sebelumnya, teman saya seTK-SD-SMA baru selesai kursus juga di tempat yang sama. Recommended deh tempat kursus itu, harganya lebih murah dibanding yang lain, pelatihnya juga asik-asik. Kursus pertemuan terakhir saya ditutup dengan latihan parkir yang cukup sulit. Sekitar 1 atau 2 minggu berikutnya (saya lupa), saya membuat SIM di Tangerang (ga usah tanya SIM resmi atau nembak ;p). Mengendarai mobil sama halnya seperti belajar bahasa dan juga menari saman. Harus sering dilakukan agar terbiasa dan semakin handal. Semakin jauh jam terbang maka semakin banyak pula pengalaman.

Tidak seperti mama, saya adalah pengendara yang lebih nekat. Seriously, selama ini saya bawa mobil harus selalu didampingi ayah, tapi ketika ayah pergi dinas ke luar kota, mobil di rumah saya bawa muter-muter terus haha. Pertama sama mama, berduaan ke Pasar Modern BSD yang notabene parkirnya susah karena ramai terus. Bermodalkan tekad berani (dan bismillah), saya berhasil parkir meskipun harus 2 kali ngelurusin dengan dibantu orang. Selamat tuh, selamat sampai mobil kembali terparkir di garasi rumah walaupun sempet nyasar hehehe. Percobaan bawa mobil tanpa ayah berikutnya yaitu ditemani seorang kakek, ngga deng, teman saya si Odon yang baru bisa bawa mobil juga. Nekat kita ke IC bawa mobil. Awalnya Odon yg nyetir, pas mau keluar makan dan jemput teman-teman yang lain di sekitaran BSD saya yg bawa mobil. Meeen, saat itu saya baru sadar seisi mobil penuh sama cowok dan yang nyetir saya cewek sendiri, kasian mereka. Akhirnya setelah selamat dan dapat tempat parkir enak di BSD Square, pulangnya si kakek lagi yang nyetir.

Dilarang: selfie di tengah jalan!

Pernah kecelakaan ga, Ziy? Pernah dong! Tapi ga parah sih... Cuma nyenggol spion mobil orang terus langsung saya tinggal kabur hahaha. Saya ga tau kalau ada kejadian begitu tuh saya harus turun minta maaf. Saya pikir karena jalannya memang sempit dan kita sama-sama ngebut jadi ya bukan salah siapa-siapa juga kan :p Begitulah sedikit dari beberapa pengalaman menyetir saya selama setahun. Intinya sih, mengendarai mobil itu harus pakai perasaan, bukan cuma otak saja. Harus bisa mengatur keseimbangan kopling dan gas, harus bisa menginjak rem dengan halus, harus hati-hati lihat spion kanan-kiri-tengah, harus ingat menyalakan lampu sein, dan cermat lihat rambu-rambu jalan. Banyak hal tidak terduga bisa terjadi di jalan. Misal, ada motor menyalip, ada orang menyebrang, macet, jalan tanjakan/turunan. Yang paling saya takuti dan belum berani saya hadapi sih jalanan tanjakan yang macet. Sumpah, kalau udah bisa melewati keadaan itu berarti anda adalah pengendara mobil yang handal!

Kunci untuk perempuan yang ingin bisa mengendarai mobil: berani ambil resiko, sabar, hati-hati, abaikan pengedara lain yang komplain di jalan (misalnya dengan mengklakson anda) selama anda berkendara dengan benar. Sampai saat ini pun saya masih suka nervous kok, tapi bukan berarti tidak berani. Kakak-kakak sepupu saya yang tadinya khawatir juga sudah percaya melihat saya menyetir. Kepercayaan orang lain akan didapat jika anda percaya pada diri sendiri bahwa anda BISA!


Picture source: Solusi Mobil

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal 1435 Journal: "Ilmu" Part 1

Assalamu'alaikum!
Tidak terasa Syawal telah memasuki pertengahan, berarti masih ada 3 postingan jurnal lagi yang harus saya buat sebelum bulan ini berakhir :')
Sebenarnya cukup banyak waktu luang di liburan kali ini, namun seringkali ide menulis itu datang dan pergi sesuka hati di otak saya. Dengan niat dan hati ikhlas, semoga jurnal Syawal 1435 bisa selesai sampai tuntas 6 postingan, bismillah...

Cerita dimulai dari percakapan saya dengan adik ketika sedang menikmati kemacetan di dalam mobil, pada hari pertama bulan Syawal, bertepatan dengan pulang liburannya ke rumah. Adik saya sudah hampir 6 tahun mengenyam pendidikan formal di pesantren. Setiap pulang liburan, dia selalu membagi sedikit ilmu yang didapatkan di sekolah. Saya bilang "sedikit" karena dia pelupa dan memang masih banyak ilmu lain dari pengalaman tinggalnya di sana yang tidak bisa diceritakan satu persatu. Di tengah percakapan tentang keagamaan, adik saya berkata, "Teteh harus bisa menjawab kalau ada yang bertanya tentang 'Bukti keberadaan Tuhan'". Wuih! Berat sekali pembahasan kali ini ya hihihi.

Kemudian dia bercerita mengenai debat antara seorang atheist dengan seorang alim. Atheist ini sangat kritis, dia banyak berdebat dengan pemuka-pemuka berbagai agama dan argumen-argumennya begitu kuat. Ketika ingin berdebat dengan pemuka agama Islam, sang atheist menunggu kedatangannya cukup lama hingga dia berpikir bahwa sang alim takut berdebat dan tidak jadi datang ke tempat janjian mereka. Terkaan itu ternyata salah, sang alim akhirnya datang menemuinya dan dengan sigap sang atheist segera memulai perdebatan. Sayang sebelum sempat dimulai, sang alim memotong perkataan sang atheist dan meminta maaf atas keterlambatannya.

"Tidakkah kau ingin tahu mengapa aku terlambat? Izinkanlah aku bercerita terlebih dahulu", kata sang alim.
Atheist pun mengiyakan permintaan tersebut dan mendengarkan alasannya.
"Saat menempuh perjalanan menuju ke sini, aku harus melewati sungai yang besar, tetapi ternyata jembatannya terputus. Aku berusaha mencari jalan namun tiba-tiba dihadapanku muncul sebuah perahu dari batang kayu yang telah tersusun dan terbentuk dengan rapi sehingga aku dapat menaikinya dan menyebrangi sungai itu", cerita sang alim.
Tak ayal sang atheist pun tertawa, "bagaimana bisa sebuah perahu muncul tiba-tiba tanpa ada yang membuatnya? Mungkin anda berbohong atau malah sudah gila", katanya tidak percaya.
Sang alim tersenyum, "kalau begitu bagaimana anda bisa mengatakan bahwa seluruh dunia beserta segala isinya ini bisa ada tanpa ada zat yang menciptakan?"
Atheis tercengang, dia telah termakan oleh kata-katanya sendiri. Dia telah kalah bahkan sebelum perdebatan mereka dimulai.


Dialah (Allah), yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Demikian babak pertama kisah perdebatan antara atheist dengan seorang alim. Logika yang memunculkan pemikiran bahwa Tuhan tidak ada telah kalah bahkan dengan logika itu sendiri. Cerita versi adik saya berakhir sampai sana, namun saya menemukan lanjutan dari kisah ini ketika surfing di internet. Penasaran? Check it in next post ya!

Wassalamu'alaikum!


Photo sources: Tumblr Inspirart & Media Belajar Islam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal 1435 Journal: "Suami Setia"

Marhaban yaa Syawal!

Beeeuh, jurnal Syawal kali ini judulnya mantap sekali~ Ufufufu
Bukan cerita tentang saya pasti... Saya mah entah kapan baru bisa cerita tentang suami sendiri. But no problem, saat ini saya bisa bercerita tentang suami orang kok--eits, jangan salah paham dulu--ini cerita tentang Om dan Tante saya yang baru-baru ini mendapat musibah. Stay read!

What is in your mind if you hear about "loyalty"? Yap, terus menerus berada di "tempat" yang sama. Bukan bertapa maksudnya. Edisi jurnal ini dimulai dari cerita saya--orang tidak berkegiatan selama liburan--yang diminta mama untuk menjenguk tante di rumah sakit. Awalnya karena mendadak saya memutuskan untuk menunda pergi ke sana, dibuntuti juga dengan berbagai alasan seperti: kepala pusing, mau hujan, blablabla (dasar saya pemalas), jadi saya bilang ke mama, "besok aja ya jenguk tantenya." Tanpa bisa terelakkan lagi, keesokan harinya mama memaksa saya ke rumah sakit, sekaligus setelahnya ke kantor mama untuk ikut buka puasa bersama.

Sampai di rumah sakit, tante sedang sendirian, kalau siang memang tidak ada yg menjaga katanya. Suaminya, om saya, bekerja dan anak-anak mereka dititipkan ke kakak dari tante saya. Ohya, di sini yang punya darah kandung dengan mama adalah om bungsu saya ini. Kondisi tante saat itu memprihatinkan, tak heran mama memaksa saya untuk menjenguknya. Tante terkena penyakit hits yang banyak menyebabkan orang meninggal: kanker. Tepatnya lagi, kanker payudara. Saya menceritakan ini sebagai contoh dan pembelajaran, bukan untuk menjelekkan keluarga saya sendiri. Penyakit ganas tersebut sudah membuat sebelah payudara tante diangkat dan kepalanya menjadi licin tanpa rambut sehelai pun. Beliau masuk ke rumah sakit pun setelah menjalani pengobatan rutin penderita kanker yaitu kemoterapi.

Fight cancer together!

Penyakit yang paling sering menderita dan ditakuti oleh wanita (mungkin) adalah kanker payudara dan kanker rahim, you sure really know why. Om dan tante saya ini memiliki 3 orang anak yang terbilang masih kecil-kecil. Ditambah lagi salah satu anaknya memiliki diffability sehingga sangat bertumpu pada sang ibu. Sedih sekali rasanya melihat kondisi tersebut. Sebagai perempuan, saya berpikir: bagaimana bila hal itu terjadi pada saya atau mama? Bagaimana anak-anak saya nanti? Bagaimana suami saya nanti? Apakah bisa menerima keadaan itu dan tetap menemani sampai akhir--apapun akhirnya: sembuh atau meninggal? Alhamdulillah sekali om saya yang orangnya telaten tetap menemani tante hingga saat ini dan semoga seterusnya.

Mengapa saya bisa begitu khawatir? Tidak setiap pasangan setia, guys. Atau, mungkin dulu dia setia ketika anda masih "sempurna". Tetapi ketika misalnya bagian tubuh krusial anda harus diangkat (seperti tante saya), atau mungkin ternyata setelah menikah baru diketahui bahwa anda tidak bisa memiliki anak (seperti tante saya yang lain, yang hingga kini belum punya anak dan om saya tetap setia bersamanya), apakah semua pria akan berlaku sama? Saya dulu punya uwa (kakak dari ayah) yang juga terkena penyakit mengenaskan ini, dan selama dia sakit suaminya malah memulangkan uwa saya ke rumah nenek, sampai beliau meninggal.

Sangat gampang mengatakan, "Allah tidak akan memberikan musibah yang tidak dapat kamu lalui" atau pernyataan memotivasi lainnya. Namun betapa berat bagi yang merasakannya. Yuk, intropeksi diri! Sudah kah kamu siap menerima apa adanya dan setia mendampingi pasangan/calon pasangan hidup kamu? Kembalikan semuanya kepada diri sendiri: bagaimana rasanya jika ditinggal suami/istri dalam keadaan kekurangan? Then you will become a loyal, aameen. Insya Allah.
Loyalty quote
Pictures source: Google

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Syawal 1435 Journal: "Jengki"

Assalamu'alaikum! *edisi alim*
Ga kerasa Ramadhan telah usai... Hiks! Nevermind, Syawal is coming :)
Syawal means..... Saatnya Syawal Journal!! *tetereeeeeet*

Di postingan pertama jurnal Syawal ini, sama seperti tahun lalu saya akan berbagi kisah-kisah inspiratif selama bulan Ramadhan kemarin. Semoga bisa diambil hikmah dan manfaatnya yaaa.
Bismillah, kita mulai dari cerita "Jengki", apaan sih itu? Haha itu loh temennya pete/petai. Iya, jengkol. What's wrong with jengkol? Seminggu terakhir Ramadhan dan awal Syawal ini, mama disibukkan sama sayuran berbau menyengat itu. Mama mau masak jengkol. Udah beli si jengki di tukang sayur dengan harga mahal: 35 ribu rupiah. Dengan sabar dan telaten mama mengurus si jengki. Ternyata ga mudah loh mengolah jengkol hingga menjadi semur jengkol yang (katanya sih) enak. Seumur-umur saya sendiri belum pernah makan pete, apalagi jengkol, dilarang sama mama karena efek lanjutnya (red: BAU). Kalau kali ini mama berhasil memasak semur jengkol dengan enak, saya diizinkan makan jengkol for the first time in forever! Hihihi.

Perjuangan mama mengolah si jengki dimulai dari merendamnya selama seminggu penuh di baskom, kemudian setiap hari air rendamannya diganti. Efek sampingnya adalah setiap kali ritual itu dilakukan, rumah jadi bau jengkol sampai ke ruang tamu depan (dapur rumah saya letaknya di ujung belakang). Hingga tibalah saatnya... Hari itu datang juga... Hari di mana mama akan memasak semur jengkol menggunakan si jengki. Baunya enak~ Layaknya bau semur daging. Sayangnya ketika memasak, mama sedang puasa qadha, jadi ga bisa langsung icip hasil masakannya. Kami menunggu sampai waktu makan malam. Saya dan ade excited ingin memakan jengkol untuk pertama kalinya. Uhuy!

Iya! Tidak! Bisa jadiiiiiii!

Namun, Allah berkehendak lain. Malam itu tidak satupun dari saya atau ade yang memakan jengkol. Mama gagal! Semur jengkolnya keras, ga legit kayak biasa (katanya), ga enak deh. Akhirnya mama saja yang makan si jengki, itu juga cuma sedikit. Sedih... Perjuangan mama mengolah si jengki selama seminggu rasanya sia-sia. Saya juga sedih karena masih penasaran dengan rasa sayuran fenomenal itu. Padahal mama udah wanti-wanti: abis makan jengkol langsung makan timun, terus kalau pipis harus di kloset dan disiram yang banyak. Sepanci semur jengkol pun diam di atas meja makan, tak ada yang menyentuh.

Well, pelajaran yang dapat diambil dari cerita jengki adalah bahwa perjuangan seberat apapun yang kita lakukan hasilnya belum tentu sesuai dengan keinginan kita, tapi hasil tersebut selalu yang terbaik menurut Allah. Entah kita harus berjuang lebih keras lagi, atau hasilnya memang tidak baik untuk kita (dalam kasus ini, bisa membuat seisi rumah pingsan misalnya karena efek lanjut dari memakan jengkol), bisa juga Allah gantikan dengan hasil yang lebih baik. Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. You have to believe Him!

Sekian. Nantikan Syawal 1435 Journal edisi berikutnya :)


Pictures source: Google

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments