Teori Cinta
Ada satu teori
cinta, yang sejak beberapa waktu lalu sedang melanda saya. Biasanya teori ini
terjadi pada anak kecil yang malu-malu. Teorinya begini, saya akan berlaku
jahat terhadap orang yang saya cintai. Kelakuan jahat itu tentu masih dalam
batas kewajaran, seperti: mengata-ngatai, menjudesi, memarahi, bahkan sampai
menjauhi.
Mari kita masuk ke
contoh. Seorang teman berkata begini setelah melihat twit saya untuk adik
sematawayang:
"Zi, kok lo
jahat sih sama adek lo? Bilang 'berisik! Berisik!' gitu. Galak banget sama adek
sendiri"
Sebagai sesama anak bungsu,
mungkin teman saya itu simpati terhadap adik saya. Apakah saya membenci adik saya sendiri?
Tentu tidak. Saya memang sering bersikap kasar kepada adik, tapi itu tidak
berarti saya membencinya--sebaliknya, saya mencintainya.
Sama halnya dengan
anak kecil yang malu-malu, yang malah memukul orang yang disukainya, saya
melakukan itu terhadap orang yang diam-diam saya cinta. Alasan yang
sama dengan sang anak kecil: malu. Walaupun saya sebegitu sayangnya dengan
adik, tetap saja saya tidak dapat mengatakan secara langsung. Saya berpikir,
jika tidak bersikap kasar kepadanya, nanti dia akan tahu bahwa saya
menyayanginya. Tapi toh pada akhirnya dia akan tahu dengan sikap-sikap saya
yang lain, seperti: memberikan hadiah. Saya tidak bisa tidak memberi kepada
orang yang saya cintai.
Konteks yang sama
dengan menjauhi. Ketika saya merasa kedekatan saya dengan seseorang malah
membuat kami terjerumus kepada hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan atau
melewati batas pertemanan, maka saya memutuskan sebaiknya kami menjauh.
Bukankah kamu tidak mau orang yang kamu cintai malah kamu sesatkan dengan
keegoisanmu yang selalu ingin dekat dengannya?
![]() |
| Selamat mencinta! |







0 komentar:
Posting Komentar