Syawal Journal 6#: Hidup Bukan Pilihan
Sampai saat ini,
saya masih tidak setuju dengan pernyataan "hidup adalah pilihan". To the point saja, apakah sebelum lahir kamu
pernah ditanya ingin hidup atau tidak? Saya sendiri sih tidak pernah ingat
diminta untuk memilih hadir di dunia. Voila!
Begitu sadar, saya adalah manusia yang hidup.
Jika yang dimaksud bahwa dalam hidup kita terdapat banyak pilihan dan
kita dituntut untuk memilih, bukan berarti hidup itu melulu pilihan kan? Kamu
tidak dapat memilih ingin menjadi laki-laki atau perempuan, ingin menjadi muda
atau tua, ingin kulit putih atau hitam, ingin rambut lurus atau keriting, ingin
terlahir di keluarga kaya atau miskin--masih setuju bahwa hidup adalah pilihan?
Bagi saya, hidup lebih kepada soal menerima. Menerima bukan berarti pasrah, ada
doa dan usaha mendampinginya. Bagi saya, hidup lebih kepada soal bersyukur.
Bersyukur atas segala apa yang telah diterima.
Menyenggol sedikit
masalah hati. Apakah mencintai itu pilihan? Mau tidak mau kamu harus mencintai
Tuhan. Mau tidak mau kamu harus mencintai dirimu sendiri. Mau tidak mau, pada
akhirnya kamu tidak bisa--dan memang sejak awal tidak dapat--memilih orang yang
kamu cintai. Tidak setuju? Masih tidak percaya bahwa hidup bukan hanya untuk
memilih?
"Nak, apakah
ada yang pernah berpikir hidup ini bukan soal pilihan? Karena jika hidup hanya
sebatas soal pilihan, bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika
ternyata kau adalah pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu?"
Kotak-kotak
kehidupan Andrei, Berjuta Rasanya, Tere
Liye






0 komentar:
Posting Komentar