Cerita Seorang Teman
Aku terbangun. Kamar
gelap. Mimpi buruk yang membuatku menangis. Aku terdiam beberapa saat sampai
pesan singkat itu masuk. Timing yang pas. Berceritalah aku dalam air mata
membalas pesan. Hingga sang teman menelponku yang masih ketakutan. Tak lama,
aku pun dapat kembali memejamkan mata.
Aku terbangun. Bis
gelap. Mimpi buruk yang "menjadi kenyataan". Apalagi kalau bukan
pelecehan namanya? Aku mengelak, tapi baru kusadari aku lemah. Teringat tadi
belum membalas pesan sang teman, spontan aku mengiriminya pesan "ketakutan".
Sayang, pesan itu tak dibalasnya. Aku menahan semuanya dengan membaca
Asy-Syifa, obat segala penyakit. Matahari sudah mulai muncul saat sang teman
menelponku. Ah, kali ini dia terlambat, aku harus menghadapi kejahatan
semalaman penuh sendirian. Aku tidak tahu harus berkata apa kepadamu, teman,
air mata mungkin tidak mengalir karena trauma. Sang teman yang tampak khawatir,
tidak memaksaku menjawab. Sampai saat ini, dia tidak tahu. Tidak ada seorang
pun yang tahu, bahkan orang tuaku. Aku hanya ingin menceritakannya kepadamu
teman, walaupun entah kapan, walaupun itu hanya menjatuhkan nilaiku, walaupun
kini aku menjauh.
Aku terbangun. Bis
terang. Tidak ada mimpi buruk. Betapa bersyukurnya aku kepada Tuhan. Aku
menerima pesan dari sang teman. Timing yang pas. Meledak tangis yang tertahan.
Oh, ini di bis, betapa anehnya diriku. Apa yang harus kubalas? Kekesalanku?
Kekecewaanku? Kecemburuanku?
Aku mengejanya, T-E-M-A-N.






0 komentar:
Posting Komentar