Syawal Journal 5#: Menikahi si(apa)?
Menikah memang urusan langit. Sejatinya hanya Pemilik langit yang tahu. Namun manusia tetap mempunyai standardisasi mereka sendiri untuk memilih siapa pasangan mereka kelak, walaupun segalanya tetap Dia yang menentukan. Apa sih dasar yang membuat kamu memutuskan untuk menikahi seseorang? Penampilan fisiknya kah? Hatinya kah? Hartanya kah? Jabatan orang tuanya kah? Atau almamater (jurusan dan universitas) dan pekerjaannya?
Ya, terkadang ketika kamu memilih calon pasangan hidupmu, kamu juga melihat latar belakang dan embel-embel mereka. Apalagi di lingkungan sosial di umur saya ini, yang dibicarakan bukan "siapa" tetapi "anak mana". Jawabannya juga bukan nama orang, tetapi "anak jurusan ini" dan "anak universitas itu". Sebagai contoh, teman-teman sejurusan saya ingin punya suami diplomat, sehingga kalau cita-cita mereka tidak tercapai maka mereka tetap dapat ikut suaminya keliling dunia. Pemikiran seperti itu, pemikiran (maaf) sesempit itu. Saya akui latar belakang memang penting, terutama latar belakang agama, tapi cobalah dipikirkan kembali, kalau "yang penting suami diplomat" atau "yang penting suami dokter" apalagi kalau "yang penting suami kaya", ketika mereka sudah meninggalkan titel (tittle) itu apakah kamu tetap ingin bersamanya?
Alkisah ada seorang pemuda dengan latar belakang keluarga yang sederhana. Namun dengan kegigihan orang tuanya, dia kemudian dapat hidup berkecukupan dan bahkan terbilang lebih. Suatu ketika sang pemuda jatuh cinta kepada teman sebayanya. Dia tidak tahu keluarga wanita itu, dan pemuda juga tidak tahu latar belakang wanita itu. Hati membuat sang pemuda tulus mencintai sang wanita apa adanya. Belakangan, setelah sang pemuda serius ingin menikahi sang wanita, tahulah ia bahwa wanita itu berasal dari keluarga yang kaya raya, dengan hidup yang lebih dari lebih berkecukupan, bahkan orang tuanya berperan penting dalam negara. Sang pemuda tidak kemudian ciut, dia ingin menikahi sang wanita walaupun dengan atau tanpa latar belakang keluarganya. Di sinilah mereka, di kehidupan pernikahan yang insya Allah sakinah. Sang pemuda--kakak sepupu saya--menikahi wanita impian yang dia cintai, tanpa dibicarakan buruk seperti "hanya mengincar hartanya".
Jadi, si(apa) yang akan kamu nikahi?







0 komentar:
Posting Komentar