Label:
Feelings
|
di
09.38
Cil, gue tau sekarang kenapa gue nangis-nangis gini. Selain karena gue kehilangan orang yang gue sayang, ternyata gue juga kehilangan seorang sahabat, seorang teman bercanda, seorang kakak dengan pemikiran dewasa, seorang adik yang manja, seorang teman bicara, seorang teman diskusi dalam hal apapun, seorang tempat berkeluh kesah, seorang panutan, seorang yang menemani gue ketika mati lampu waktu malam atau bangun dari mimpi buruk atau sekedar lembur mengerjakan tugas, seorang imam sholat, seorang yang membuat gue sadar bahwa gue memiliki perasaan karena marah, nangis, dan cemburu tapi juga bahagia, seorang yang membuat gue belajar sabar, belajar memberi, belajar menerima, dan belajar ikhlas. Kehilangan seseorang itu sebagai pengorbanan untuk mendapatkan kebaikan yang lebih besar karena ketika gue bersamanya hanya akan menambah dosa dan karena pengaruh buruk yang gue berikan lebih besar daripada kebaikan untuk orang itu. Pengorbanan untuk lebih dekat dengan-Nya karena gue selama ini telah mendua. Pengorbanan untuk idealisme yang kami berdua sama-sama pegang. Harusnya gue ga menangisi pengorbanan itu, hanya karena waktu yang datang tiba-tiba dan rasa ketidakpercayaan kepada seseorang itulah kenapa gue menangis. Mungkin gue masih akan melanjutkan tangisan ini dibabak-babak berikutnya, tapi gue percaya kepada janji-Nya. I will get what I deserve. Maaf gue nyusahin dan ngerepotin lo sebagai teman, gue cuma ga tau harus bilang ini sama siapa. Makasih cil(heart)
Sebuah chat kepada seorang teman yang setia menemani di kala abu-abu menjadi lebih gelap. Terima kasih Widya Dita.
0 komentar:
Posting Komentar