Syawal Journal #2: Orang Kedua
Selamat menjalankan ibadah puasa sunah Syawal!
Saya? Baru hari pertama niat Syawal-an malah berhalangan...hiks tapi gapapa, disyukuri saja :)
Pada tulisan kedua ini--sama seperti judul dan urutannya--saya ingin bercerita mengenai second person. Bukan wakil koordinator divisi kepanitiaan, second person di sini maksudnya Mbak saya hehe. Namanya Puji Harti. Orang Brebes tulen. Ibu kedua saya setelah Mama. Anggota keluarga ke-5 di Happy Little Family (keluarga kecil kami). Pengatur urusan ibu rumah tangga secara teknis, mulai dari belanja, masak, mencuci, dan bersih-bersih rumah. Saat ini juga menjadi ahli parkir mobil pribadi keluarga. Saya tidak pernah mau menyebutnya pembantu, dan dia sendiri juga menyebut dirinya sebagai "yang bantu-bantu di rumah". Terdengar lebih ribet dan panjang, tapi makna sebuah panggilan menurut saya cukup penting bagi harga diri seseorang.
Mbak pertama kali datang ke rumah kami ketika saya bahkan belum bisa--ehem, maaf--cebok sendiri. Sampai sekarang saya berkuliah, dia setia mendampingi dan telah menjadi bagian dari keluarga kami (memang masih termasuk keluarga jauh, karena kakak perempuan Mbak menikah dengan kakak tiri ayah). Tidak heran saya dan adik tumbuh dengan sosok "ibu kedua", yang menyuapi, memandikan, dan mengasuh kami sehari-hari. Saya tidak bisa melupakan masa-masa di mana setiap pulang sekolah menonton film serial India dan telenovela di televisi, bahkan hafal lagu-lagu dangdut yang tenar saat itu.
Lika-liku kehidupan tampaknya hampir dikhatamkan oleh Mbak. Dengan latar belakang SD kelas 2, Mbak menikah muda, mempunyai seorang anak laki-laki, dan kemudian bercerai. Belum selesai sampai di sana, kehidupan percintaan Mbak di lingkungan rumah kami cukup rumit dengan banyaknya laki-laki yang menyukai. Mulai dari pembantu tetangga depan rumah, sampai tukang ojek. Sayang, dia "tergelincir" dan harus sejenak meninggalkan rumah kami karena mengandung, walaupun kemudian menikah dengan tukang ojek langganan yang mengantar-jemput adik sekolah. Saat ini, anak kedua Mbak bernama Nur Fadillah, sudah naik ke kelas 3 SD. Waktu tanpa terasa berjalan sangat cepat. Berbagai peristiwa telah terjadi di dalam lingkungan keluarga kami.
Teman saya pernah bilang bahwa dia tidak mau menjadi orang kedua karena seringkali terlupakan (sebagai contoh: sebagian besar orang tidak ingat bahkan tidak tahu nama wakil presiden Amerika Serikat, atau malah mungkin nama wakil presiden Indonesia kedua yang mendampingi Pak Soekarno ;)). Namun sampai kapanpun, Mbak tetap menjadi second person bagi saya secara pribadi. Bedanya, second person yang biasa sering dilupakan, tidak berlaku dalam hubungan saya dengan Mbak. Sooo, menurut saya tidak selamanya orang kedua atau menjadi orang kedua selalu buruk. Setuju dengan saya?
Lika-liku kehidupan tampaknya hampir dikhatamkan oleh Mbak. Dengan latar belakang SD kelas 2, Mbak menikah muda, mempunyai seorang anak laki-laki, dan kemudian bercerai. Belum selesai sampai di sana, kehidupan percintaan Mbak di lingkungan rumah kami cukup rumit dengan banyaknya laki-laki yang menyukai. Mulai dari pembantu tetangga depan rumah, sampai tukang ojek. Sayang, dia "tergelincir" dan harus sejenak meninggalkan rumah kami karena mengandung, walaupun kemudian menikah dengan tukang ojek langganan yang mengantar-jemput adik sekolah. Saat ini, anak kedua Mbak bernama Nur Fadillah, sudah naik ke kelas 3 SD. Waktu tanpa terasa berjalan sangat cepat. Berbagai peristiwa telah terjadi di dalam lingkungan keluarga kami.
Teman saya pernah bilang bahwa dia tidak mau menjadi orang kedua karena seringkali terlupakan (sebagai contoh: sebagian besar orang tidak ingat bahkan tidak tahu nama wakil presiden Amerika Serikat, atau malah mungkin nama wakil presiden Indonesia kedua yang mendampingi Pak Soekarno ;)). Namun sampai kapanpun, Mbak tetap menjadi second person bagi saya secara pribadi. Bedanya, second person yang biasa sering dilupakan, tidak berlaku dalam hubungan saya dengan Mbak. Sooo, menurut saya tidak selamanya orang kedua atau menjadi orang kedua selalu buruk. Setuju dengan saya?







0 komentar:
Posting Komentar