Syawal Journal #1: Mengabaikan Yang Tidak Pernah Mengabaikanmu
Assalamu'alaikum!
Alhamduillah, senang sekaligus sedih masih diberikan kesempatan untuk melewati bulan puasa tahun ini. Senang karena dapat menjalankan ibadah puasa bersama keluarga, dan sedih karena ibadah yang saya jalankan belum maksimal. Saya ingin bercerita sedikit sebelum masuk ke penjelasan dari judul pertama Syawal Journal ini.
Dalam perjalanan hidup saya, sampai saat ini waktu yang paling banyak saya gunakan untuk beribadah amaliyah adalah ketika saya sedang menuntut ilmu di MAN Insan Cendekia selama tiga tahun. Pertama kali saya mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu bulan Ramadhan, paling banyak melaksanakan shalat sunah, puasa, hafalan, dsb. Pada rentang waktu itu pula saya memutuskan untuk terus menutup aurat, walaupun saya akui bahwa saya belum bisa menjaga hati dan diri dari pergaulan dengan lain jenis. Kesempatan dan fasilitas yang ada mendukung kegiatan keagamaan saya. Masa-masa itu, masa-masa keemasan singkat setelah melewati kegelapan.
Pernahkah anda merasa terabaikan?
Hal itu yang saya rasakan saat saya berada jauh dari-Nya. Gusar, emosional, ingin lenyap dari dunia. Masa-masa labil, masa-masa kenakalan anak remaja, masa-masa kegelapan yang saya alami. Beruntung, kedua orang tua menyekolahkan saya di Madrasah Tsanawiyah, dengan pelajaran agama yang lebih dibandingkan dengan sekolah umum. Tanpa ada tempat untuk berkeluh-kesah, saya menyadari sesuatu. Ketika saya menangis, marah, dan melukai diri, saya berbicara sendiri. Seolah-olah bercakap dengan sesuatu yang tidak tampak. Saya berdoa. Bukan doa dalam diam dan khusuk. Doa dalam raungan dan air mata. Dia hadir, bahkan selalu bersama dan tidak pernah sekalipun mengabaikan saya. Kemudian berangsur-angsur, saya diberikan-Nya petunjuk jalan menuju masa-masa keemasaan.
Saat ini, Syawal 1434, saya berusaha menebus kelalaian, abai beribadah pada Ramadhan kemarin. Walaupun tanpa fasilitas yang sama dengan ketika berada di MAN Insan Cendekia dulu, kesempatan untuk terus beribadah masih ada selama jantung berdetak. Jika ibadah amaliyah tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, maka saya berusaha menggantinya dengan ibadah lain. Lagipula secara logika, tidak etis kan, jika mengabaikan Dia yang tidak pernah sekalipun mengabaikanmu? ;)
Pernahkah anda merasa terabaikan?
Hal itu yang saya rasakan saat saya berada jauh dari-Nya. Gusar, emosional, ingin lenyap dari dunia. Masa-masa labil, masa-masa kenakalan anak remaja, masa-masa kegelapan yang saya alami. Beruntung, kedua orang tua menyekolahkan saya di Madrasah Tsanawiyah, dengan pelajaran agama yang lebih dibandingkan dengan sekolah umum. Tanpa ada tempat untuk berkeluh-kesah, saya menyadari sesuatu. Ketika saya menangis, marah, dan melukai diri, saya berbicara sendiri. Seolah-olah bercakap dengan sesuatu yang tidak tampak. Saya berdoa. Bukan doa dalam diam dan khusuk. Doa dalam raungan dan air mata. Dia hadir, bahkan selalu bersama dan tidak pernah sekalipun mengabaikan saya. Kemudian berangsur-angsur, saya diberikan-Nya petunjuk jalan menuju masa-masa keemasaan.
Saat ini, Syawal 1434, saya berusaha menebus kelalaian, abai beribadah pada Ramadhan kemarin. Walaupun tanpa fasilitas yang sama dengan ketika berada di MAN Insan Cendekia dulu, kesempatan untuk terus beribadah masih ada selama jantung berdetak. Jika ibadah amaliyah tidak bisa dilaksanakan secara maksimal, maka saya berusaha menggantinya dengan ibadah lain. Lagipula secara logika, tidak etis kan, jika mengabaikan Dia yang tidak pernah sekalipun mengabaikanmu? ;)
![]() |
| najmeeqamar.blogspot.com |







0 komentar:
Posting Komentar