Tentang Janji
Tok-tok! Suara ketukan terdengar di depan pintu kamar, kemudian diiringi dengan sahutan, "Neng, nasi kuning gorengan neng..." memecah ketenangan waktu dhuha hari ini. Seperti biasa, hampir setiap pagi ibu penjual nasi kuning dan gorengan menjajakan dagangannya ke kamar-kamar di kosanku. Bedanya, pagi ini si ibu lebih keukeuh menjual pisang aroma di depan salah satu kamar. Tidak lama, aku mendengar percakapan antara si ibu dengan teteh-teteh di kosanku yang membeli gorengan. Ah.. Mungkin tidak bisa dibilang percakapan juga, lebih kepada si ibu yang bercerita. Begini ceritanya.
Kemarin, si ibu mendapat pesanan untuk membuat pisang aroma sebanyak 80 buah dari seseorang. Setelah berbelanja bahan-bahan dan mengolahnya, pisang aroma pesanan pun siap diantarkan. Tetapi ternyata baru pagi tadi si ibu mendapat kabar bahwa pesanan tersebut dibatalkan. Si orang yang memesan pun tidak berada di tempat. Makanya hari ini si ibu lebih gesit karena harus menjual lebih banyak dagangannya. Walaupun kesal dan merasa dirugikan, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan mungkin berbagi cerita dengan orang lain agar merasa lega.
Well, kisah ini seharusnya dapat menjadi pelajaran (dan sedikit sindiran) bagi orang-orang yang pernah mengingkari janji--atau bisa jadi pemberi harapan palsu--agar tidak mengulangi perbuatan yang sama. Ada dua dari banyak alasan: karena dapat menyakiti hati orang yang dijanjikan dan bisa menjadi 'terkenal' sebagai pengingkar janji (sehingga tidak lagi dipercaya).
Berhati-hatilah jika berjanji!






0 komentar:
Posting Komentar