Penggalan Kisah Dia
Rambutnya
mirip. Gondrong dan ikal. Apa model rambut seperti itu sedang menjadi trend?
Saat reuni SD beberapa waktu lalu, Aku juga menemukan mantanku dengan model
rambut yang sama. Mereka jadi tampak serupa. Dia dan mantanku.
---
Kehidupan
kuliah bagiku sangat berbeda dengan kehidupan sekolah dulu. Lebih bebas dan
lebih terbuka. Di sini Aku bertemu dengan banyak orang yang berbeda.
Teman-teman yang baik, asik, care,
dan... dan Dia. Mungkin orang yang baru pertama kali mengenalnya akan
menganggap Dia pendiam, tidak banyak tingkah. Begitu juga Aku, menganggap Dia
orang yang dingin.
Semua
pandanganku berubah sejak Dia mengajakku berbicara. Tidak secara langsung, tapi
melalui chat di jejaring sosial.
Sejak saat itu Dia tidak lagi pendiam dan dingin di mataku. Dia berisik, jahil,
iseng, dan suka bercanda. Kami menjadi dekat. Setiap hari bertemu di dunia
maya. Di dunia nyata? Kami juga bertemu. Dia termasuk teman dekatku, teman sekelompok
di satu mata kuliah. Tapi hubungan kami tidak sedekat saat di dunia maya.
Rutinitas ini berlangsung singkat—walaupun bagiku terasa lama—sampai akhirnya
kami memutuskan keluar. Bertemu berdua, makan, dan saling bercerita. Bercerita
seperti yang biasa kami lakukan. Bedanya kali ini tatap muka. Terus saling
bercerita dan bercanda walaupun makanan kami tidak habis dan pengunjung lain di
tempat itu mulai berganti.
Temporer,
perasaanku saat itu hanya sementara. Setelah pertemuan itu perlahan-lahan
kebiasaan kami mulai hilang. Tak ada chat.
Tak ada lagi saling bertukar cerita dan tak ada lagi keisengannya. Hanya
sesekali saat tugas menghantui di malam hari. Aku membantunya sedikit. Tetap
tidak ada cerita. Tidak ada keisengan. Rasa penasaran atas berhentinya
kebiasaan itu membuatku menyelidikinya. Hasil penyelidikan yang kulakukan
membuatku sadar bahwa Dia sedang menyukai seseorang dan menyerah. Entah siapa
dan entah mengapa Dia menyerah.
Mungkin
dan hanya mungkin. Apapun yang terjadi di antara kami saat ini, yang bisa
kulakukan hanyalah berhipotesa. Bahkan berhipotesa pada perasaanku sendiri.
Suka atau tidak. Bagaimanapun juga, di samping sikapnya yang berubah dan
perasaanku yang tak jelas, kami menjalani hari-hari seperti biasa. Biasa seperti
saat sebelum Dia mengajakku bicara. Kembali ke masa Aku masih menganggapnya
dingin. Tetapi pandanganku terhadapnya tak berubah. Dia berisik, jahil, iseng,
dan suka bercanda.
---
Rambutnya
tidak mirip. Cepak dan berdiri. Apa model rambut seperti itu tidak membuatnya
cepat sakit di musim hujan begini? Saat ospek beberapa waktu lalu Aku menemukan
senior dengan gaya dan perawakan seperti Dia. Mereka tampak serupa dengan model
rambut yang berbeda. Dia dan seniorku.






0 komentar:
Posting Komentar