♥ ALLAH SWT, A Happy Little Family, Grey, Hello Kitty, Deutschland, Frente!, EXO, Adam Sandler.

Ich und mein Schleier

huuuuhaaaa
gue ngepost ini di tengah gundah-gulana setelah pertemuan mentoring agama di kampus tadi
well, ga terlalu galau banget juga sih.. cuma jadi kepikiran aja
walaupun niatnya sekarang mau ngerjain tugas ekonomi, tapi kok ya hal ini mengganggu otak

Let's start the story with my background
First of all, gue bukan berasal dari keluarga dengan tingkat ke-alim-an yang tinggi, entah keluarga ustadz atau pemuka agama Islam lain (ex:ulama, haji, dsb). Keluarga gue alim, tanpa embel-embel apapun.
Gue diajarin Islam dari kecil, bahkan mulai belajar shalat dari umur 3 tahun (kata nyokap sih, gue ga inget). Belajar ngaji juga, tamat SD udah berapa kali khatam tuh (sumpah ya, ini bukan niat pamer atau sombong). Tapi untuk masalah hijab-menghijab aurat kok ya longgaaar

Mulai diwajibin pake kerudung tuh pas kelas 5 SD, secaraa SD gue bergenre sekolah Islam. Itu juga pakenya pas di kelas doang, kalo udah pulang sekolah ya lepas. Jaman-jaman SMP, sekalipun gue sekolah dengan title Madrasah, sama aja kelakuannya kayak jaman SD. Malah karena sekolah gue jauh (14 km dari rumah), pergaulan gue makin ga terkontrol. Se-gakterkontrolnya gue, gue tetep tergolong anak alim di kelas unggulan kok (bisa gitu ya?). Walaupun di akhir-akhir jaman SMP nama gue terkenal (red:tercemar) karena pacaran sama biang preman SMP gue (wesss)

Nah, karena bokap-nyokap (gue, bukan bonyok orang lain) khawatir dengan kelabilan gue di masa SMP, jadilah gue berusaha di-alim-kan. Salah satu caranya dengan memasukkan gue ke Insan Cendekia--Islamic-Boarding School (bukan pesantren, ingeet!!). Perlu digarisbawahi boarding school. Gue yang lagi liar-liarnya mau dikurung atas nama kebaikan. Dan memang udah takdir gue masuk sekolah itu, sekalipun pas tes masuk gue ga belajar dan ngisinya ga niat (sorry buat yang pengen masuk IC tapi malah ga diterima, takdir Allah sangat adil)

Di IC lah semua komitmen-komitmen agama yang gue buat dimulai. Awalnya cuma sebatas kewajiban, memenuhi budaya di IC, tapi lah memang seharusnya umat Islam kayak gituuu #abstrak
Lupain deh masalah liar dan labilnnya masa-masa SMP, di IC tuh susah banget berkutik, terutama buat yang perempuan. Yang namanya jaga aurat harus bener-bener. Jilbab nerawang, kena tegur. Jilbab kependekan, kenaaa. Baju kependekan, kenaaa. Celana keketatan, kenaaa. Kena-kena-dan kena. Berapa kali ya gue kena tegur?
Dan yang bikin gue malu adalah waktu kena tegur gara-gara pasang profpic tanpa jilbab di FB. Maaaan! Jaman gue masuk SMA kan FB belum sengetren sekarang @$#%$@! Mana gue tau yak kalo ada kaka kelas yang ngepoin FB gue grrrr buka FB aja sekali, pas sign up doang, dan itu waktu belum masuk IC kan kan kan

Abaikan aturan-aturan islami lain yang dibudayakan di IC selain menutup aurat bagi perempuan. Topik postingan gue kali ini khusus masalah hijab aja. Jadilah gue anak IC yang terlihat alim. Pelan-pelan membiasakan pake jilbab yang rapi. Ga nerawang, ga pendek, nutupin dada. Di awal-awal gue punya motivator yang sering mengingatkan, misalnya 'ziy, kerudungnya kependekan' atau 'ziy, bagus gitu loh kerudung panjang dan pake rok'. Mengesampingkan sang motivator, naik kelas 2 SMA gue mulai menyempurnakan hijab. Coba-coba pake kaos kaki. Ya, tanpa disadari, kaki juga adalah aurat perempuan kan? Tapi masih banyak banget perempuan berjilbab yang belum menutup aurat kakinya. Bahkan di IC pun peraturan hijab kaki itu tidak ketat.

Dari sekian panjang background gue di atas, intinya mah gue dengan segala kekurangan dan kelebihan gue, dengan segala pengaruh lingkungan, situasi, dan kondisi, memutuskan untuk berjilbab. Ga lagi sekedar kewajiban di sekolah aja, tapi di luar sekolah juga. Mungkin keputusan ini awalnya memang karena kewajiban dan aturan sekolah, tapi inilah jalan gue untuk lebih dekat dengan Allah. Toh bukan karena terpaksa banget, lagian kalo diajak berbuat kebaikan siapa sih orang waras yang ga mau?

Pelan-pelan gue belajar melindungi diri sendiri dengan berjilbab. Walaupun kadang berat dan masih suka bolong-bolong. Misalnya kalo ke teras rumah ga pake jilbab, atau kalo ketemu keluarga yang bukan muhrim juga ga pake. Kaos kaki pun suka dilepas dalam situasi tertentu di tempat umum.

Masuk keinti masalah kegundahgulanaan gue malam ini, gue berada di luar IC sekarang. Mempertahankan ternyata lebih sulit daripada memulai. Dunia di dalam IC adalah dunia buatan, di mana lingkungannya dibuat sedemikian rupa untuk membentuk orang di dalamnya menjadi islami. Kenyataannya adalah dunia luar ini sangat amat berbeda dengan kehidupan di IC. Godaannyaaaaa bejibun-jibun (gue suka banget kata 'bejIbun' ini haha #random)

Pas mentoring agama Islam tadi dibahas mengenai pergaulan, nyerempet-nyerempet jadi soal pakaian muslimah yang seharusnya. Dulu di IC, mulai angkatan gue diberlakukan larangan memakai celana jeans, karena ngetat dan membentuk. Sekarang tiap hari gue kuliah pake celana jeans. Pokoknya bayangin aja style gue kuliah: jilbab, kemeja, jeans, kaos kaki, sepatu. Ga semuslimah di IC lah. Kenapa? Karena gue merasa lebih nyaman. Dibanding pake rok terus, mau jadi apa orang yang ga bisa diem kayak gue? Dulu aja rok seragam abu-abu pada lepas jaitan spannya.

Ya. Ya, gue merasa sangat mengalami penurunan setelah keluar dari IC. Dan parahnya di luar ga ada yang bisa negur gue sebebas waktu di IC dulu. Itu masalahnya. Kontrol diri. Sampai saat ini gue tetap mempertahankan jilbab gue, kaos kaki gue. Tapi gue belum bisa menghindari pakaian yang nyaman gue pake saat ini. Bukan berarti baju kurung panjang plus rok atau gamis ga bikin gue nyaman, tapi gue lebih nyaman dengan kemeja atau kaos dan celana gue. Bikin galau kan kan kan?

Di satu sisi gue pengen mempertahankan bahkan memperbaiki diri, di sisi lain gue pengen ngerasa senyaman mungkin. Ditambah lagi situasi dan kondisi yang seperti ini. Haaaaah
Mentoring agama selalu mengingatkan gue pada indahnya kehidupan beragama di IC...


HAAAAH
lega juga setelah nulis uneg-uneg yang jadi beban pikiran
postingan ini akan gue tutup dengan doa syukur nikmat

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ

وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ


وَأَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْإِنِّيْ تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ


"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"



selamat memulai bagi yang belum dan selamat bertahan bagi yang sudah,
si orang yang bertahan
zip

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Posting Komentar