Sepasang Kebalikan
Aku terkesima. Hei, baru berapa lama aku mengenalnya? Hitungan hari!
Kenapa dia begitu terbuka padaku? Dengan menceritakan masa lalunya yang tertatih-tatih menghadapi dunia. Mengisahkan buruk-buruknya, tapi juga perjuangannya hingga berada di sini.
Begitu familiar. Apa kami sudah kenal lama?
Suaranya lembut, tidak seperti kebanyakan lelaki. Tidak seperti suaraku yang keras. Hari demi hari, ku ketahui juga bahwa dia orang yang lamban—mandi paling lama—jalan lama. Tidak seperti ku, paling pertama datang, bahkan menyiapkan semua kursi di kelas.
Dia penuh basa-basi. Tegur sapa sana sini. Meski lingkaran pertemanannya hanya itu-itu saja. Sangat berbeda denganku, cuek, melakukan seperlunya saja, tapi toh kenalanku di mana-mana. Ikut kelompok A B C dan seterusnya.
Begitulah kami bertemu. Menjadi sepasang kebalikan. Yang saling melengkapi. Yang saling mengisi. Yang saling menerima.






0 komentar:
Posting Komentar