Tentang Kamu (Bagian Terakhir)
Tidak terasa sudah setahun sejak tangis semalaman itu, sejak mengurung diri 3 hari di kamar, sejak hati berlubang untuk yang kedua kalinya. Tulisan ini untuk kamu, tentang kamu, semoga yang terakhir. Terima kasih telah--setidaknya--berusaha berada (kembali) di jalan yang benar, entah itu dengan alasan hanya untuk kebaikan kamu atau kita. Maaf telah menyesatkan dan selalu mengeluh, hanya menjadi benalu. Ini tangis terakhir untuk diriku sendiri karena kamu, aku berjanji.
Masih banyak hal yang perlu dipertanyakan, sama seperti dulu, tapi sepertinya tidak perlu dijawab. Biar rahasia tetap menjadi rahasia. Biar kata-kata terakhirmu dulu--yang aku yakin hanya untuk meredakan tangisku--menjadi abu, literally. Ya, pada akhirnya tidak ada 2 atau 3 tahun lagi itu, bukan? Tidak ada aku yang terlalu baik, hanya alasan untuk pergi, hanya alasan untuk apa yang disebut dengan menjaga hati. Karena pada akhirnya aku menjadi munafik atas kata-kataku sendiri.
Sekali lagi, kata maaf itu paling mudah diucapkan, tapi tidak mudah dilakukan. Aku masih sama, menunggu ucapan terima kasih atas setiap bentuk yang aku beri, hanya untuk tau kamu bahagia. Tetapi nyatanya tidak, semua pemberianku itu hanya mengganggumu. Maka aku putuskan untuk berhenti. Tahukah betapa sulitnya berhenti peduli? Seperti berdiri di atas awan, usaha sia-sia yang hanya membuatku terjatuh.
Aku masih sama, menunggu ucapan maaf atas setiap bentuk perbuatanmu yang tanpa kamu sadari telah menyakiti, hanya untuk tau aku bisa dan akan bahagia. Tidak perlu susah payah menolak, aku tidak memaksamu, tidak akan pernah memaksa hatimu untuk kembali, karena tidak ada yang bisa mengontrol hati kecuali Dia. Satu hal yang perlu kamu pahami, begitu juga aku, kamu tidak bisa mengontrolku untuk membuka hati. Biar saja hati ini terbolak-balik secara alami, toh aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan pergi dengan sendirinya, tanpa perlu kamu usir.
Hanya satu hal yang aku tau, kamu baik untuk dirimu, dan aku tidak akan percaya lagi kata-katamu. Biarlah orang memandangmu baik, karena memang kamu baik, dan biarlah hanya aku yang tau burukmu, karena itu hal berharga yang tersisa yang dapat aku miliki sendiri. Mengetahui itu sudah cukup, jangan melakukannya terhadap orang lain lagi, jangan berikan pada yang lain, biarkan menjadi milikku saja. Cerita kita, hanya kita dan Dia yang tau. Hari ini aku menutup pintu ini dan membuang jauh-jauh kuncinya tanpa ada kunci baru, tidak perlu. Jika aku harus jatuh cinta lagi aku harap itu terjadi pada waktu yang sesuai dengan ketentuan-Nya, dengan orang pilihan-Nya.
Aku harap kita tidak akan bertemu lagi, jika kita masih menjadi orang egois yang sama.






0 komentar:
Posting Komentar