Cerita Tentang Bintang
Saat itu malam, langit gelap
hitam pekat. Aku berlari menuju bukit, di mana terhampar padang luas. Sedikit aku
henti dan berjalan, kemudian berlanjut lari. Hampir kehabisan nafas hingga aku
melihat sepercik cahaya, berkelip. Bintang! Sebentar lagi sampai menginjakan
rumput. Satu, dua, ah lebih dari setahun lamanya menuju bukit itu. Terpikir untuk
menyerah, mungkin aku salah, mungkin itu bukan bintang dan mungkin padang itu
tidak pernah ada di atas bukit. Hingga di bulan ke lima belas aku merasakan tanah
lembut di kakiku, lengkap dengan rerumputan. Aku sampai! Bukan khayalan lagi. Ketika
aku ingin menyerah dan kembali turun, ternyata bintang itu yang menarikku semakin
menuju bukit. Cahaya gemilau itu bukan khayalan, aku melihatnya dengan mata
kepalaku sendiri. Sau, dua, ah ratusan. Indah, sangat indah. Menatap ke atas hingga
aku lupa pulang. Aku tidak ingin matahari muncul. Aku tidak ingin pagi datang. Aku
tidak ingin siang menyinari dunia. Aku ingin malam! Aku lupa bahwa bumi hidup
dari satu cahaya. Terpukau dengan keindahan kemilau, kerlap-kerlip bintang
malam. Dan awan pun datang. Ia datang dan menangis! Menutupi bintangku. Aku kehilangan
arah. Jangan! Aku berteriak. Jangan tinggal kan aku bintang! Aku sendiri di
padang gelap, hitam, pekat, bersama awan yang menangis. Aku berteriak lebih
kencang. Kau yang menarikku ke sini! Kau yang ingin aku melihatmu, mengagumi
keindahan cahaya berkilaumu, lalu kenapa kau meninggalkanku?
Bintang berkata, “kau butuh matahari, aku butuh matahari, untuk itu awan datang.” Aku tidak
terima. Aku memang butuh matahari, tapi aku mencintaimu bintang, aku tau siapa
yang bisa membuatku lebih baik, kau yang paling tau siapa aku. Denganmu bintang,
aku bisa bercerita apapun tentang bumi. Terus argumen-argumen kuberikan. Tapi bintang
menghilang, meninggalkanku dengan tangisan hujan. Aku tidak menyerah, aku tau
jika matahari menakdirkan bintang untukku, dia akan kembali, malam akan datang.
Aku akan menunggu. Matahari terbit, tidak, dia selalu ada bersamaku, hanya aku
yang melupakannya. Matahari marah aku mengabaikannya, padahal ia yang membawa
pagi dan siang untukku hidup, dia adalah bintang terbesar. Satu, tidak banyak
seperti bintang malam, tapi cahayanya paling kuat dibandingkan seribu bintang. Aku
bercerita pada matahari, aku meminta maaf, aku percaya padanya.
Matahari berbisik,
“dia tidak pergi, bintang selalu ada di balik awan, menunggu cahayanya yang
paling memukau untuk menerangimu. Jangan khawatir ketika dia selalu bersamaku. Lihatlah
ke bawah bukit, kau harus membuka mata melihat keindahan cahaya bintang bawah
yang tak kalah indah, sambil terus berlari dan percaya kepadaku. Aku selalu
memberikan yang terbaik untukmu, selamanya.”






0 komentar:
Posting Komentar