♥ ALLAH SWT, A Happy Little Family, Grey, Hello Kitty, Deutschland, Frente!, EXO, Adam Sandler.

Cerita Tentang Bintang

Saat itu malam, langit gelap hitam pekat. Aku berlari menuju bukit, di mana terhampar padang luas. Sedikit aku henti dan berjalan, kemudian berlanjut lari. Hampir kehabisan nafas hingga aku melihat sepercik cahaya, berkelip. Bintang! Sebentar lagi sampai menginjakan rumput. Satu, dua, ah lebih dari setahun lamanya menuju bukit itu. Terpikir untuk menyerah, mungkin aku salah, mungkin itu bukan bintang dan mungkin padang itu tidak pernah ada di atas bukit. Hingga di bulan ke lima belas aku merasakan tanah lembut di kakiku, lengkap dengan rerumputan. Aku sampai! Bukan khayalan lagi. Ketika aku ingin menyerah dan kembali turun, ternyata bintang itu yang menarikku semakin menuju bukit. Cahaya gemilau itu bukan khayalan, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Sau, dua, ah ratusan. Indah, sangat indah. Menatap ke atas hingga aku lupa pulang. Aku tidak ingin matahari muncul. Aku tidak ingin pagi datang. Aku tidak ingin siang menyinari dunia. Aku ingin malam! Aku lupa bahwa bumi hidup dari satu cahaya. Terpukau dengan keindahan kemilau, kerlap-kerlip bintang malam. Dan awan pun datang. Ia datang dan menangis! Menutupi bintangku. Aku kehilangan arah. Jangan! Aku berteriak. Jangan tinggal kan aku bintang! Aku sendiri di padang gelap, hitam, pekat, bersama awan yang menangis. Aku berteriak lebih kencang. Kau yang menarikku ke sini! Kau yang ingin aku melihatmu, mengagumi keindahan cahaya berkilaumu, lalu kenapa kau meninggalkanku? 

Bintang berkata, “kau butuh matahari, aku butuh matahari, untuk itu awan datang.” Aku tidak terima. Aku memang butuh matahari, tapi aku mencintaimu bintang, aku tau siapa yang bisa membuatku lebih baik, kau yang paling tau siapa aku. Denganmu bintang, aku bisa bercerita apapun tentang bumi. Terus argumen-argumen kuberikan. Tapi bintang menghilang, meninggalkanku dengan tangisan hujan. Aku tidak menyerah, aku tau jika matahari menakdirkan bintang untukku, dia akan kembali, malam akan datang. Aku akan menunggu. Matahari terbit, tidak, dia selalu ada bersamaku, hanya aku yang melupakannya. Matahari marah aku mengabaikannya, padahal ia yang membawa pagi dan siang untukku hidup, dia adalah bintang terbesar. Satu, tidak banyak seperti bintang malam, tapi cahayanya paling kuat dibandingkan seribu bintang. Aku bercerita pada matahari, aku meminta maaf, aku percaya padanya. 

Matahari berbisik, “dia tidak pergi, bintang selalu ada di balik awan, menunggu cahayanya yang paling memukau untuk menerangimu. Jangan khawatir ketika dia selalu bersamaku. Lihatlah ke bawah bukit, kau harus membuka mata melihat keindahan cahaya bintang bawah yang tak kalah indah, sambil terus berlari dan percaya kepadaku. Aku selalu memberikan yang terbaik untukmu, selamanya.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Posting Komentar