Berpikir Luas
Sudah pernah baca tulisan Menikahi Si(apa)? Bagi yang belum, silahkan baca terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca postingan saya ini. Kejadian 2 hari yang lalu membuat saya kembali memikirkan hal yang sama seperti yang telah saya tulis sebelumnya, karena ternyata masih ada orang-orang yang ingin menikahi "apa". Begini, sebuah keinginan, impian, dan harapan memang harus diperjuangkan, namun ada saat ketika itu semua bukan menjadi seperti apa yang anda pikirkan. Keinginan malah berubah menjadi obsesi, dan perjuangan berubah menjadi ambisi. Itu adalah apa yang akan terjadi ketika idealisme anda tidak seimbang dengan realitas, terjebak dalam pemikiran sempit.
Coba berpikir ulang dan lebih terbuka, bukan hanya pekerjaan diplomat saja yang dapat membuat anda pergi keluar negeri, bukan hanya pengusaha saja yang dapat membuat kaya, dan bukan hanya dokter saja yang memiliki pekerjaan mulia bisa menolong kehidupan orang lain. Selama hidup hamppir 21 tahun, saya telah melalui banyak waktu sulit yang membuat saya kehilangan cita-cita saya. Kecewa, sedih, marah. Bagaimana perasaan orang tua saya yang sejak dulu begitu menginginkan anaknya mencapai cita-citanya? Membuat saya terus merasa tertekan.
Pengalaman telah membuat saya berpikir dan bersikap dewasa. Tujuan untuk mencapai cita-cita itu masih dapat dicapai walaupun saya tidak menjadi seperti apa yang saya inginkan dulu. Masih banyak pekerjaan mulia dan membanggakan lainnya, yang dapat menjadi kebanggaan bagi kedua orang tua dan keluarga saya. Saya sedang asyik menikmati kegiatan volunteer mengajar saya dan bersenda gurau dengan anak-anak, juga pelan-pelan belajar berwirausaha untuk hidup lebih mandiri, kuliah sambil mencari-cari kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia di dunia luar. Selain itu saya akan tetap mengejar impian terbesar saya menimba ilmu di negara nun jauh di sana.
Saya tidak akan berubah demi orang lain, apalagi hanya untuk mengesankannya dan membuatnya memilih saya sebagai pendamping hidupnya. Saya akan terus berjuang demi senyum bahagia kedua orang tua, dan saya yakin bahwa akan ada orang yang menghargai dan menyayangi saya apa adanya selama saya masih berada di jalan kebaikan, selama pekerjaan saya bermanfaat dan diridhoi oleh-Nya. Karena hanya Dia, yang memandang mahkluknya bukan dari fisik, materi, atau pekerjaan, tetapi dari keimanan.
Ketika saya bersedih untuk hal yang remeh, tidak bisa menjadi apa yang orang lain inginkan, saya sadar bahwa masih banyak orang yang bangga akan keberadaan saya. Teringat akan Ayah yang selalu menceritakan "kehebatan" anaknya ini, bahkan kepada orang yang baru dikenalnya. Teringat ketika Mama bercerita bahwa Wa Ella membangga-banggakan saya yang pernah pergi ke negara sebrang, dan teringat air mata Nenek yang mengalir di bandara ketika saya pulang seorang diri setelah membawa nama Indonesia. Hal-hal yang mungkin tidak seberapa bagi orang-orang besar dan hebat seperti teman-teman saya yang menjuarai berbagai lomba bertaraf internasional. Namun bagi saya, cukup melihat orang-orang yang saya sayangi bangga dan bahagia, maka saat itu juga saya bahagia.
Selamat berpikir! Mari menjadi dewasa bersama :)






0 komentar:
Posting Komentar