Tentang Hari Itu
Saya menangis. Lemah sekali bukan? Kali ini sepenuhnya menangis, mungkin akumulasi dari kesedihan saya selama setahun. Setahun? Ya, ternyata sudah setahun lamanya. Berkali-kali saya mencoba menghindarinya, menampiknya, tidak mau mengakuinya, tapi toh pada akhirnya saya berada pada situasi ini.
Flashback ke beberapa hari yang lalu. Saya masih sangat sibuk dengan berbagai kegiatan dan tugas yang saya pikir akan terselesaikan sebelum bulan Desember. Kenyataannya, sampai detik ini dan akhir bulan Desember nanti pun, saya masih akan sibuk. Beberapa waktu saya isi dengan menulis, mengetweet, atau sekedar menonton. Saya tidak lupa hari itu, tentu saja. Terlalu banyak hari spesial di bulan ini, dan saya tidak bisa melupakan setiap harinya. Dari jauh-jauh hari, saya telah memikirkannya. Apa yang akan saya lakukan? Apa yang telah dia lakukan dulu? Apa yang telah saya lakukan tahun lalu? Ah, tahun ini berbeda. Saya berbeda, walaupun saya tidak tahu apakah dia berbeda.
Hari itu pun datang. Terlalu banyak yang ingin saya berikan, sungguh. Terlebih lagi, terlalu banyak yang saya pikirkan. Jika saya berikan ini, apa yang akan terjadi? Jika saya berikan itu, apa yang akan terjadi? Terlalu banyak pertimbangan, hingga pesan itu masuk. Saya cemburu dan tidak ingin peduli. Yang terjadi adalah, saya memberikan ini tanpa yang lain. Kemudian saya berpikir, "ah, Pray for them, doesn’t mean they have to know your prayer."
Hingga esoknya, saya memantapkan diri untuk mengucapkan. Bagaimanapun juga, dia berhak mendapatkannya. Kejadian demi kejadian berlangsung hari itu, tanpa saya menyangka bahwa keesokan harinya lagi, saya harus memakan sendiri keberanian yang saya kumpulkan. Lemah, menangis dan menangis. Apa yang harus saya lakukan? Ketika ada yang lain datang menghampiri dan saya malah menginginkan dia. Sudahi sajakah? Dari dulu! Sangat ingin. Redam saja sendiri, pendam saja dulu, lihat saja nanti.






0 komentar:
Posting Komentar